RSS

Minggu Kelabu

11/27/11
Hening, kosong, dan hampa. Bosan, suntuk, dan ngantuk, itulah yang ku rasa kini. Makan dan tidur adalah pekerjaan rutin akhir pekan.  Bosan tidur maka laptop dibuka sekedar online di jejaring facebook yang tak seramai dulu. Sungguh akhir pekan yang menyedihkan dan hari ini adalah hari minggu kelabu.
Di rumah berenam kamar yang disewakan sebagai kosan ini hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang, tak seramai jika semua penghuni kamar ada di kosan. Aku bersama teman sekamarku pun termasuk orang yang selalu stay di kosan, tak ada pekerjaan, tidak ada kegiatan, tidak ada yang mengajak jalan, hanya menikmati sunyinya kosan. Entah dimana penghuni lainnya, mungkin pulang ke rumahnya, pulang ke tempat saudaranya, atau justru jalan-jalan dengan pacarnya. Mungkin juga ada yang mengerjakan project kecilnya seperti penghuni kamar depan kamar.
Aku ingin seperti mereka yang tiap pekannya pulang ke rumah merasakan hangatnya rumah. Walaupun sebenarnya kosan sudah hangat (bahkan panas) tak ada yang bisa menggantikan hangatnya keluarga. Tidak seperti sekarang ini berduaan dengan orang yang sama mengenaskannya denganku. Hanya bisa berucap bersama-sama, “Aku ingin pulang”. Bagaimana tidak, perjalanan menuju sweet home membutuhkan waktu paling tidak 13 jam. Tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk menempuh perjalanan panjang itu. Jumat sore berangkat, Sabtu pagi sampai rumah, Sabtu siang istirahat, Minggu pagi jalan-jalan, dan Minggu sore kembali berangkat menuju kota perantauan. Banyak sudah yang melakukan perjalanan itu, tapi bagi kami, terlalu letih dan terlalu nekat untuk melakukan perjalanan tersebut. Hingga hari ini, hampir 3 bulan kami menikmati akhir pekan yang menyedihkan.
Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa kalian tidak jalan dengan pacar kalian?” PACAR? Terbuat dari apa makanan itu? Yang kami tahu adalah agar-agar rasa coklat yang saat ini kami masak. Apakah pacar juga manis seperti gula yang ku tuangkan ke dalam adonan agarku? Tak tahulah. Sepertinya kami masih terlalu kecil untuk menikmati apa itu pacar.
Sebenarnya ada banyak yang hal yang bisa kami kerjakan. Berpetualang mungkin?! Secara sudah setahun kami disini, hanya beberapa tempat yang baru kami kunjungi. Selebihnya hanya kami lewati, itupun tak semuanya. “Lantas kenapa kalian tak berpetualang?” Apa yang ada di benak kalian ketika melihat 2 gadis mungil di tengah jalan tersesat tak tahu arah dan lihatlah mukanya yang penuh peluh karena teriknya sang mentari. Bayangkan kembali jika kedua gadis mungil itu adalah aku dan teman sekamarku. Akankah kalian akan tertawa? Atau justru merasa kasihan? Atau iba hingga kalian memberi recehan kepada kami? Tidak. Terima kasih.
Kini ku dan nya menanti agar yang baru saja kami tuangkan ke wadah yang entah siapa pemiliknya. Pembuatan agar kali ini tergolong berhasil, tidak seperti waktu itu, ketika si kecil Miyako menyemburkan isi yang dikandungnya. Ku rasa sekarang sudah cukup mengeras.
Ragunan :)
Entah apa yang ku pikirkan sesaat, sepertinya sama dengan yang ia pikirkan. Mau apa kita? Kami senang mendapat libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Kenapa? Karena kami bisa terlepas sejenak dari dunia perkuliahan. Walau ada tugas setidaknya kami diberi kesempatan 2 hari untuk tidak memikirkannya. Akan tetapi mengapa akhir pekan kami seperti ini? Begitu membosankan dan bingung tuk beraktivitas. Belajar? Siapa pula yang belajar di akhir pekan seperti ini. Nonton TV? Bukan karena gambar yang tidak jelas, tapi lebih kepada minat kami yang semakin lama semakin surut dengan acara-acara di TV. Tidur? Dalam sehari kami bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 jam untuk tidur. Belanja? Maaf, uang kami terbatas. Jika saja kami punya pohon uang, pasti mal-mal besar itu sudah kami beli. Jalan-jalan? Kalian ingin lihat kami tersesat lagi. Lagi? Iya. Kami pernah tersesat. Sungguh mengenaskan. Agustus lalu, di awal-awal bulan Ramadhan, aku meminta dia untuk mengantarku ke Harco, menyembuhkan Acep yang tengah sakit. Dan karena dia ingin membeli flash disk titipan kawannya, maka ia pun mengiyakan. Sebelumnya kami pernah ke Harco namun dengan kendaraan umum. Metromini 27 atau busway. Akan tetapi siang itu kami memilih bersama Ova “Onky” untuk pergi kesana. Berbekal ilmu yang minim tentang jalan di ibukota, kami memulai perjalanan itu. Yang kami tahu, cukup mengikuti jalur busway arah Ancol, maka kau akan sampai ke Harco. Kami ikuti jalur itu, hingga di perempatan itu. Rupanya busway dengan arah yang sama mempunyai rute yang berbeda. Satu menuju Ancol dan satu lagi menuju Monas. Dan sialnya kami mengikuti arah menuju Monas. Maju terus mencari belokan berbalik arah. Jauh juga rupanya. Soal panas jangan ditanya. Sudah tentu panasnya tiada terkira, apalagi dalam keadaan puasa. Ya, beginilah hidup. Akankah ‘tersesat’ akan terulang kembali?
Sebenarnya akhir pekan seperti ini aku ingin sekali jalan-jalan, tapi beramai-ramai. Seperti saat itu, pergi ke Ancol atau ke Ragunan. Nyasar, nyasar bareng. Capek, capek bareng. Satu tempat wisata yang sampai saat ini aku masih ingin kesana walau semua kawanku tidak menyukainya, Mekar Sari. Mereka lebih memilih untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Keinginan setiap orang memang berbeda. Mekar Sari, mengingatkan ku jaman SMA dulu. Kecintaanku pada dunia tumbuh-tumbuhan khususnya buah-buahan membuatku bermimpi suatu saat aku punya taman buah seperti Mekar Sari dan akan ku beri nama Mekar Putik. Khayalan konyol. Mungkin takkan pernah terwujud. Tak apa. Tapi ku harap setidaknya sekali dalam seumur hidupku aku pernah ke Mekar Sari. (Lebay).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar