RSS

Secuil Impian


Kebonsari, 17 Agustus 2012
“Aku ingin kuliah di UI biar bisa bareng mbak Mia.”
Sebuah kalimat sederhana yang keluar beberapa menit yang lalu. Kalimat yang terucap (entah sadar atau tidak sadar) dari mulut mungil bocah berusia 11 tahun. Bocah yang tak lain adalah adikku yang kini duduk di bangku kelas VI sekolah dasar.
Mendengar kalimat tersebut mengingatkanku pada salah satu impianku yaitu Membiayai adik kuliah. Tujuh tahun lagi adikku berada di bangku kuliah. Saat umurnya 18 tahun (dan diterima di UI), bagaimanakah keadaanku saat itu? Aku wanita berusia 27 tahun yang mungkin tengah menggendong bayi berusia 1,5 tahun. Mungkinkah aku bisa mewujudkan mimpiku yang satu itu?
Walau dirasa tak mungkin, tapi manusia tak pernah tahu. Apakah di usia itu aku benar-benar bisa membiayai adikku kuliah atau aku justru masih meminta dari orang tua untuk membiayai kehidupanku atau yang lebih buruk, apakah aku masih ada di dunia ini saat usiaku menginjak 27 tahun. Benar-benar rahasia illahi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Yudisium


A : 85 – 100
B : 75 – 84
C : 65 – 74
“Gampang banget buat dapet A!” Gumamku saat pertama kali mengetahui penilaian di perkuliahan. Aku yang rata-rata mendapat nilai 9 untuk pelajaran Matematika, Kimia, dan Fisika mulai meremehkan. Sayangnya tak ada mata kuliah yang senada dengan pelajaran yang aku sebutkan tadi. Dan hasilnya bisa ditebak, semakin tinggi semester yang aku lalui, maka semakin turun nilai IP maupun IPK ku. Masalah sedih tak perlu ditanya, siapa orang yang tak sedih mengalami kemunduran dalam dirinya.
Ruang 303, 10 Agustus 2012
Ini kali kedua bagiku menjalani yudisium, sebuah prosesi yang bagi anak SD disebut ‘terima raport’. Bertempat yang sama dengan tahun lalu tanpa didampingi wali murid dan hanya bermodal surat bebas tanggungan yang sudah ditandatangani, sang wali dosen memulai prosesi dengan berceramah, mengingatkan kami agar selalu berusaha, berdoa, dan belajar demi masa depan kami.
Di tunggu hingga pukul 10.00 pagi, ternyata warga 303 belum lengkap. Baru bangun tidur. Lagi di perjalanan. Aku yang njarkom ke teman-teman pagi tadi merasa bersalah. Malam hari sebelum yudisium aku cuma memberi tahu teman-teman yang sekiranya belum tahu. Ternyata saat pagi hari aku jarkom ke teman sekelas masih banyak yang belum tahu kalau jam 09.00 sudah harus berkumpul di ruang 303.
Dan akhirnya, belum lengkap ber-30 dosen sudah membagi amplop bertuliskan nama masing-masing. Namun, sebelumnya kita beri penghargaan bagi tiga besar tahun ini. Siapakah mereka? Apakah sama dengan tahun lalu? Atau ada new comer? Rupanya posisi pertama masih diduduki orang yang sama. Posisi kedua dan ketiga sudah berganti orang. Peringkat 3 besar ini diperoleh berdasarkan IPT (Indeks Prestasi Tingkat) bukan IPK dari semester pertama. Jadi, setiap tahunnya, masing-masing dari kami memiliki peluang yang sama. Lantas bagaimana nasib KHSku?
JgGrrrrrR…
Bak kesambar petir di siang bolong, ingin rasanya ku buang amplop berisi nilai-nilaiku untuk semester ini. Lihatlah nilai C yang menghiasi kertas itu. Kok bisa? Mata kuliah apa? Sebegitu susahkah?
Yah, nilai C itu adalah nilai mata kuliah Kewirausahaan. Entah mengapa sang dosen begitu mudahnya memberi nilai C. Hmm.. mungkin salahku juga. Tak apalah yang penting sore ini aku pulang. Setelah waktu itu salah tiket, maka kini saatnya tiket itu ku gunakan. Kereta Serayu tujuan akhir Kroya. Beruntungnya aku tak sendirian. Ada dua orang sahabat yang mendampingiku.

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pulaaangg???


Hari ini sebuah tiket kereta tujuan Pasar Senen (PSE) telah siap. Siapa yang hendak ke Jakarta? Si pemilik tiket tentunya. Siapa pemiliknya? Ya, setelah kurang lebih 2 minggu berada dalam keheningan rumah, aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan yang harus ku lakukan. Salah satunya acara PMDK yang rencananya diadakan pada tanggal 9 Agustus 2012, namun pada kenyataannya tak jadi diselenggarakan karena kurangnya personil untuk mengurusi acara tersebut.

Beberapa menit sebelum pukul 17.42. Sebuah kereta api dari arah timur datang. Aku yang tengah menunggu kedatangannya di Stasiun Jenar segera mengecek barang bawaanku. Tak ada yang tertinggal. Aku hanya membawa tas gendong yang berisi Acep dan satu buah kantong kresek berisi makanan untuk berbuka puasa.
Kereta tiba bertepatan dengan adzan maghrib. Aku segera mencari bangku sesuai nomor yang ditunjukkan tiket.
Searching…
Empat orang tengah menduduki bangku untuk enam orang. Aku segera berucap permisi untuk menduduki salah satu bangku yang tersisa. Baru saja duduk, aku ditawari makan (basa-basi) untuk berbuka puasa. Aku tentu saja menolaknya dan segera membuka bekal yang sudah disiapkan ibuku. Sepotong ayam dengan sayur bening (soup) dengan kacang merah. Kenyang.
Tak berapa lama kemudian satu dari empat orang itu pergi entah kemana. Baguslah, batinku. Lewat pembiraan salah satu dari mereka ke penjual yang lalu lalang, ku ketahui mereka adalah warga Jambi yang kuliah di Jogjakarta dan saat ini tengah dalam perjalanan menuju kampung halaman. Hmm..pantes aja dari tadi mereka ngobrol, tak ku  mengerti sama sekali. Sebenarnya mereka begitu welcome. Namun rasanya, aku begitu takut untuk berbicara banyak dengan orang asing. Beberapa kali mereka mengeluarkan makanan, aku selalu ditawari. Namun selalu ku tolak dengan senyuman.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jangklot :D


Hari ini sungguh berat. Begitu lemas. Mungkin ini puasa paling tidak semangat sepanjang tahun ini. Bukan karena makan sahur yang kurang hingga tengah hari merasa tak bertenaga. Namun sepertinya ini adalah efek samping dari membantu ibu.
Ya. Siang ini, sekitar pukul 12.30 aku membantu ibuku mengangkati bambu-bambu dan kayu bekas bangunan yang tergeletak di teras rumah. Keberadaannya yang mengganggu pemandangan mata membuat kami (ibuku dan aku) tergerak untuk memindahkannya ke samping rumah, ke rumah kayu, rumah khusus untuk meletakkan kayu bakar.
Tak banyak. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Mungkin 10 kali bolak balik aku mengangkat bambu-bambu itu. Hanya sebutir dua butir keringat yang menetes.
Tahukah kamu?
Sepanjang perjalanan aku mengangkati kayu-kayu itu aku memperhatikan pepohonan yang aku lewati. Dan tak sengaja aku melihat pohon-pohon kecil yang mengingatkanku pada masa kecilku. Pohon itu adalah pohon jangklot. Ada yang tahu?
Pohon jangklot adalah pohon yang tinggi menjulang dan daunnya kecil-kecil. Setahuku pohon ini hanya untuk diambil kayunya walaupun pohon ini menghasilkan buah. Buah dari pohon ini atau yang lebih dikenal dengan jangklot bentuknya bulat kecil. Waktu masih muda, buahnya berwarna hijau dan setelah tua warnanya berubah menjadi merah. Buah-buah itulah yang ku gunakan sebagai mainan sewaktu aku kecil.
Pertama, kumpulkan jangklot tua yang berwarna merah. Kedua, ambil bijinya. Ketiga, bungkus biji-biji jangklot tersebut seperti membungkus tempe. Tunggu beberapa hari dan jadilah Tempe Jangklot. Biji yang ditumbuhi jamur itu menyerupai kedelai yang ditumbuhi jamur Rhizopus sp. pada tempe.
Aku menjadi ingat saat aku kecil dulu, aku sering sekali main masak-masakan bersama kakak dan teman-temanku. Kami memanfaatkan dedaunan dari pohon yang tumbuh di sekitar kita. Aku ingat ketika ingin membuat minyak goreng, maka gunakan daun bunga sepatu, membuat sirup berwarna merah maka gunakan pucuk daun jati, ada juga sirup warna kuning dengan menggunakan daun pohon liar yang aku tak tahu itu pohon apa. Ku potong lembut daun singkong dan daun pepaya untuk membuat masakan yang lezat. Potong miring batang daun singkong yang berwarna merah maka jadilah cabai yang pedas. Jika ingin masak udang maka gunakan bunga pisang yang sudah jatuh. Menyenangkan sekali. Apalagi saat menggunakan daun tetean sebagai uang untuk transaksi membeli makanan.
Lucu sekali mengenang waktu kecil. ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS