Ibuuuuuuuuuuuu........aku pulaaaaaaaangggggggggggg!!!
Begitulah sekiranya yang ingin aku teriakkan ketika ku lihat ibuku berada di seberang jalan sesaat aku turun dari bus Sumber Alam di Pendhawa jam 9.39 pagi ini. Aku pun mendekati ibuku yang sepertinya terharu melihat kepulanganku. Aku pun merasa demikian. Ku titikkan air mata. Aku tak tahu makna di balik air mata itu. Mungkin karena aku rindu pada ibuku, atau mungkin karena rasa tak percayaku ketika aku kembali menuju kota kelahiranku.
Sungguh, aku merasa tak percaya bisa sampai di kota ini. Sendirian, itulah yang perlu di garisbawahi. Aku bahkan tak sadar sekarang aku berada di dalam kehangatan keluarga kecil ini.
Sebelum ku memasuki dan melihat secara langsung tugu yang menyuarakan, “SELAMAT DATANG DI KOTA PURWOREJO” ku masih terbayang-bayang apa yang ku lakukan selama di Jakarta. Namun, setelah ku masuki kota ini, melihat damainya jalan raya, angkot-angkot berwarna kuning yang nampak bersih, bangunan-bangunan yang dulu ku lewati saat perjalanan ke sekolah, semua begitu indah.
Tawaku mengembang ketika ku injakkan kaki di rumah yang membesarkanku. Ku ciumi tangan orang yang ada di rumah. Ku lihat sekeliling. Tak ada yang berubah dari rumah yang ku tinggal selama kurang dari 1 semester itu. Namun, kedatanganku ini rupanya mendapat sambutan dari anggota baru rumah ini. Seekor kucing kecil tak bernama. Ya, kata ibuku, kucing ini datang tak diundang. Mungkin, kucing ini dikirim Tuhan untuk menyambutku (*aneh). Ku langkahkan kaki menuju kamar yang selalu jadi tempatku merenung. Tak ada yang berubah, hanya saja sedikit berbeda. Lebih rapi, jauh sebelum aku pergi. Yah, lagi-lagi ku harus berTERIMA KASIH kepada TUHAN yang memberiku seorang adik. Yap, adikku lah yang merapikan kamarku. Indah. Ku lihat meja yang berada di sudut kamar. Terlihat sebuah kertas bertuliskan namaku “Mb MIA” di atasnya. Ku buka kertas itu. Begitu nyata gambaran diriku dalam kertas itu. Gambar dan tulisan hasil karya adikku. Tak ku sangka begitu rindunya adikku hingga ia memberikan sambutan ‘tak berharga’ namun begitu ‘berharga’ bagiku.
Tak lama kemudian datang adikku yang baru saja pulang dari sekolahnya, mengikuti les tambahan. Senyumnya terlihat lebar. Ia terlihat malu-malu melihatku. Mungkin ia tak tahu harus berbuat apa untuk meluapkan rasa rindunya. Aku pun segera mencairkan suasana yang agak kaku itu. Ku godai dia dengan mengatakan padanya bahwa ia tak kunjung besar dan badannya masih kecil seperti dulu. Ku ajak dia ke kamar. Ku ambil tas besar yang ku bawa. Ku ambil bungkusan plastik dalam tas itu. Sebuah baju berwarna hijau muda ku keluarkan dari plastik itu. Ku berikan baju bergambar anjing itu kepada adikku. Walau terlihat kebesaran, adikku senang menerimanya. Aku pun senang melihatnya senang.
Perjalananku ku lanjutkan menuju kamar mandi. Masih sama. Namun, lagi-lagi ku temukan anggota baru yang bertengger di samping kayu bakar di samping tungku bakar yang masih setia temani keluarga ini. Anggota baru itu memang baru datang kemarin. Terlihat badannya yang mulus dan berkilauan. Mungkin terlalu berlebihan untukku deskripsikan anggota baru itu karena sesungguhnya ia hanyalah sebuah mesin cuci. Ya, semenjak bapakku kecelakaan sekitar 2 bulan yang lalu, ibuku kerepotan untuk mencuci baju. Maka akhirnya diputuskanlah untuk membeli mesin cuci itu. Aku pun kini merasakan bagaimana tidakrepotnya mencuci baju sendiri karena kini mencuci adalah pekerjaan kakakku.
Pandanganku tertuju pada tungku bakar yang tak berpindah tempat itu. Melihatnya, ku ingat aku waktu kelas X dimana aku mendeskripsikan rumah. Saat itu pelajaran bahasa Inggris membahas Description Text. Aku pun menceritakan rumahku, tak lupa tungku bakar itu. Dan kini benda itu masih ada, masih berfungsi pula. Ya, sebagai warga yang tinggal di desa, sayang sekali kalau kayu bakar didiamkan, tidak dimanfaatkan. Kini penglihatanku tertuju pada ember yang terisi penuh abu. Hanya abu, tapi itu bukan abu hasil pembakaran kayu bakar. Tapi, abu itu adalah abu yang diambil dari halaman depan. Abu itulah abu dari kejadian Merapi waktu itu. Tak bisa ku bayangkan bagaimana hujan abu kala itu. Yang terbayang adalah bagaimana repotnya ibuku membersihkan rumah dari debu yang berterbangan karena hujan tak kunjung datang meredam keadaan.
Kini ku beralih ke halaman sekeliling rumah. Lebih hijau. Mungkin karena saat ini sedang musim penghujan. Pohon Bougenvile yang saat itu ku tinggal tengah meranggas kini tampak segar dengan daunnya yang lebat. Pohon coklat yang dulu begitu enggan berbuah rupanya kini sudah mulai menampakkan buahnya. Demikian pohon sukun depan rumah. Lama tak kunjung berbuah, ia menampakkan beberapa buah yang bergelantungan. Dari sekian pohon, pohon rambutan di samping rumah lah yang begitu senang melihat kedatanganku. Terbukti dari banyaknya buah yang bergelantung disana. Mungkin lagi-lagi ku terlalu berlebihan dalam pendeskripsian ini karena pada kenyataannya saat ini memang musim rambutan. Tapi, kenapa yang di belakang rumah tak berbuah ya?
Benda-benda yang ku rindukan seperti tivi dan komputer ternyata masih berada di posisi yang sama. Chanel/saluran televisi pun masih sama, tak berubah. Saluran 6 masih berwarna hitam karena memang ‘ra nyaut’. Saluran 9 juga masih saja mempromosikan produk alat masaknya itu. Sementara komputer, kini tak lagi ku dengar bunyi “tittttt.....tiiitttttttttttt...........tiiiiitttttt”. Hanya saja, komputer ini sekarang lebih berdebu. Biasanya aku disuruh ibuku mengetikkan tugas kuliahnya, namun kini ibuku lebih sering meminta temannya mengerjakan tugas itu. Komputer pun jarang digunakan.
Akan tetapi, komputer itu pun masih berfungsi dengan baik, namun anehnya ketika ku coba ingin memakainya, komputer itu melakukan booting terus. Aku tak tahu kenapa karena ilmuku baru sampai pada bongkar pasang komponen CPU. Apakah mungkin komputer itu juga malu-malu melihat kedatanganku?
Entahlah....yang jelas aku bahagia bisa kembali ke rumah ini!!!
pulkam pertamaku
Read User's Comments(0)
Cerita Indah
Jika kau tanya bagaimana kabarku hari ini maka aku akan menjawab, “aku sedikit gila”. Hari ini aku merasa BODO BANGET. Semua ini berawal dari UTS Praktek untuk mata kuliah Orkom, yakni bongkar pasang CPU. Sial, gara-gara kalah gambreng aku mendapat jatah terakhir. Ya sudah, ku terima dengan lapang dada. Ku menunggu dan menunggu sambil mengamati teman-teman di kloter sebelum aku. Kelompokku, kelompok 3 tergolong hebat karena mampu menyelesaikan dan menyisakan waktu yang masih lumayan banyak. Namun, sungguh malangnya nasib beberapa kawanku yang agaknya memakan waktu lebih banyak (apa karena mereka lapar???? -_- apa hubungannya?)
Kini giliran aku masuk dalam ruang sauna itu. Ku coba tarik nafas panjang untuk menenangkan jemariku yang bergetar tak terkendali. Syukurlah, aku tercepat kedua setelah Elvira menyelesaikan terlebih dahulu. Ku tengok ke belakang, melihat sang dosen mulai mendekat ke arah Vira. Namun, tiba-tiba pandanganku tertuju pada dosen yang berbalik arah menjauh dari Vira dan mendekati suara yang memanggil namanya. Ku perhatikan, Windu lah yang memanggil dosen. Ku lihat CPUnya, masih tertutup rapi. Rupanya mur penutup casing CPU terlalu keras hngga sulit untuk dibuka. Setelah permasalahan selesai, aku pun tertuju pada CPU ku yang sudah sukses ku bongkar. Dosen telah mendeklarasi waktu perakitan. Aku pun dengan sigap memasang tiap komponen dengan tangan yang masih bergetar. Hingga tak sadar aku memasang heatsink dalam posisi yang salah. Ku putar lagi 4 murnya dan segera memutar mur dengan heatsink dalam posisi benar.
Tanganku masih belum terkendali, semakin tak terkendali ketika sang dosen berada di depanku untuk memberi pertanyaan. “Apa contoh dari Static RAM?” jedddhhheenngggg!!! ‘apa’ batinku. Aku pun menjawab sekenanya dan dosen pun sepertinya tak menunjukkan benar atau salahnya jawabanku. Well, dosen meninggalkanku dengan jawabanku yang mengambang.
Kini ku harus mengejar waktu, segera menyelesaikan rakitanku. Perasaanku semakin tak karuan ketika vira mulai mengetes CPU nya nyala atau tidak. Namun, tak lama kemudian aku pun menyelesaikan tugasku tepat setelah vira menyelesaikan pengetesan.
Disinilah awal kegilaanku. Ku pasang port monitor ke VGA port yang berada pada backpanel CPU. Ku pasang kaber power ke power supply. CPU menyala, fan berputar, lega hatiku. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Fan berhenti. Ku cabut kabel power dan ku tekan setiap kabel yang menempel pada mainboard. Ku ulangi lagi. Lagi. Lagi. Namun, lagi-lagi fan menyala lalu mati. Ku lihat di sekeliling. Lilis, teman yang sekloter denganku sudah siap untuk mengetes CPUnya. Aku panik, namun hidayah itu muncul begitu saja. Tiba-tiba aku ingat kalau CPUku belum aku pencet tombol power. Oh my God. Iya, ketika kita akan menyalakan komputer kita harus menekan tombol power dulu kan? Oh, betapa bodohnya aku. Aku pun keluar dengan riang gembira karena aku bisa menyelesaikan tepat waktu.
Hari ini diadakan Pemilihan Raya. Memilih ketua BEM dan anggota MPM. Wah, tak ku sangka, surat pilihan tiap prodi berbeda. Apa yang membedakan? Foto calon anggota MPM. Dan sebagai mahasiswa MI, maka fotoku pun menghiasi surat suara untuk prodi MI. Entah lah, aku tak begitu yakin aku akan terpilih. Sainganku, emmm, bukan, musuhku, bukan, kedua temanku cukup layak untuk menjadi anggota MPM dibandingkan aku. Namun, di sela-sela kepesimisanku, aku cukup lega ketika salah satu temanku setengah berbisik kepadaku, “Gue milih loe, jadi loe harus bisa jaga amanah.” Ku harus ucapkan TERIMA KASIH kepadanya kalau benar ia memilihku.
Satu kebodohan dari pemira ini. Kalian tahukan siapa calon anggota MPM dari prodi MI? Dari postingan sebelumnya mereka lah; aku, Putri, dan Intan. Berhubung aku sepaket sama Intan (Ingat: kesepaketan ini karena keterpaksaan) maka kami memutuskan untuk saling memilih dan jangan memilih diri sendiri. Bagi kami, ini sungguh konyol. Tak apalah yang penting BAHAGIA. Hahahahha....
Selepas pemira, ternyata ada rencana dadakan. Anak-anak MI mengajak sore itu juga ke Danau Sunter. Sulit rasanya untuk menolak. Apalagi selama ini aku selalu menolak dari ajakan mereka. Aku pun mengiyakan untuk ikut bersama mereka, bersama paketanku tentunya. Semua berjalan lancar sampai aku bosan duduk dan memutuskan berdiri. Sungguh-sungguh tak ku sangka, rupanya ada lubang. Kaki kananku pun masuk ke dalam lubang itu. Basah. Lebih parahnya, nyaris tak ada yang menolongku. Sial.
AKAN TETAPI, berhubung besok aku akan balik ke kotaku tercinta, maka semua yang ku alami hari ini akan ku jadikan cerita indah saat ku berada di PURWOREJO. . .
mataku
Di sela kelelahan mataku ku coba gerakkan jemariku, ku biarkan mereka mnari-nari di atas tuts – tuts keyboard.
Tak ku biarkan mata ini mengarah ke monitor yang seakan memancarkan cahaya yang seakan menyerap daya dari mata ini.
Ku istirahatkan mata ini dengan memejamkannya pelan. Ku coba masuki alam mimpi namun ku tak sampai karena teriakan – teriakan tak berdosa yang memecahkan kedamaian alam tak nyata itu. Ku tulikan telinga ini, sehingga ku konsen merajut benang-benang yang ku gunakan untuk menyebrang ke alam mimpi.
Sebenarnya ku tak ingin larut dalam kedamaian ini. Ku harus bangun dan memompa semangat, apalagi project telah dideklarasi. Tapi, satu pertanyaan dari ku, “Kenapa lagi-lagi aku harus menjumpai layar bercahaya ini! Tak ingin mataku berreplikasi. Tidak! Aku benar tak ingin!
Kini ku bersandar di kursi depan komputerku. Ku duduk tertegun sambil melirik ke monitor computer teman sebelahku. Scanning virus. Sungguh mengenaskan! Dan semakin mengenaskan karena yang di scan adalah flash diskku. Dan seperti biasa, semua folderku berubah menjadi shortcut. Tidaaakkkk!!! Satu yang tak ku ingini ketika flash diskku bermasalah adalah laptop yang tertular virus.
Ku rasa sekarang mataku sudah mulai membaik, apalagi setelah temenku yang biasa duduk di belakang sebelahku dating menuju computer yang tak biasa ku lock off. Ia mengganti warna layar tempat ku letakkan outputan monitor menjadi hitam. Kelam. Membelalakkan mataku yang pedih tadi.
Ku berjalan ke belakang memperhatikan apa yang sedang dilakukan teman-temanku. Ku lihat beberapa bangku kosong dengan computer ter-lock off. Namun, kebanyakan dari mereka memainkan game yang kelihatannya seru. Dulu aku gamer yang selalu setia mengisi ‘jam-jam pengangguran’ku dengan bermain game. Namun, sekarang minatku untuk bermain game amat sangat berkurang dikarenakan seringnya aku bertemu dengan layar penyiksaan ini. (huh, lagi-lagi aku harus berkata, “mataku pedih….”). dari sekian computer yang digunakan untuk bermain game, ku lihat 2 (atau bahkan lebih) layar dengan codingan-codingan yang penuh variasi dari sekedar apa yang dosen pemrograman berikan. Hebat mereka… tapi mengapa aku begitu malas untuk menjadi follower mereka? Di tengah kesibukan mereka masing-masing terdengar suara pemuteran film di belakang kelas. Andai saja di 406 ini setiap anak tidak menyanding computer masing-masing, pasti keadaan 406 akan seperti kelas PASKIBRA. Nonton bareng sekelas. Pasti jauh lebih menyenangkan nonton bareng daripada nonton film di laptop sementara yang lain asyik ngGame. Mungkin aku hanya iri karena aku tak tergabung dalam salah satu 2 ‘kubu mendominasi’ itu (???) karena aku justru menyibukkan diri dengan mengetikkan huruf-huruf yang kini sudah merangkaikan diri menjadi kata-kata yang berbaris menyusun kalimat.
Ku lirik lagi layar monitor sebelahku. Progress 95.9%. waw, lama sekali. Proses scanning belum berhenti. Sebegitu parahkah ??
Alhamdulillah, flashku telah kembali seperti semula. Yey!!!
Ini...
Hari ini, pagi ini, siang ini, sore ini, dan malam ini. Begitu banyak kejadian yang tak terduga, emmm...bukan tak terduga tapi apa ya??? Entahlah, selalu ku sulit mendeskripsikannya.
Pagi ini. Mungkin bisa dikatakan event Pemakaman Tarno telah berakhir. Dan seperti paham yang selama ini ku anut ; Slow down, Take it easy! Semua kan baik2 saja selama kita jaga emosi kita. Nilai bukan semata-mata diambil hanya dari UAS, UTS, Tugas, tapi juga dari attitude kita. Pintar-pintarlah cari muka depan dosen. Be great follower guys! Tapi satu hal yang tak ku mengerti selama aku berstatus mahasiswa; aku selalu duduk di depan, sang dosen selalu menunjukku menjawab pertanyaan, tapi mengapa dosen itu tak mengenalku? Bahkan sekedar mengingat namaku pun tak sanggup? Apa namaku terlalu ‘great’? W.O.W! atau aku memang kurang aktif. Entahlah, lupakan saja, tak terlalu penting dosen itu tahu dan hafal namaku atau tidak, yang terpenting secara tertulis aku bisa mendapatkan nilai yang bagus darinya. 95 boii.... (it’s just be my motivation, don’t think other). Well, all is well.
Siang ini. Bongkar pasang CPU. Great!! Ya, hari ini praktek UTS Orkom. Dosen orkom terlalu baik hingga ia memberi waktu bagi kami untuk berlatih hingga jam 1 tiba. Semua berjalan lancar, apalagi kelompok 3, yang secara bergiliran latihan bongkar pasang. Tapi hal aneh terjadi saat aku yang mendapat giliran. Emmm, bukan aneh sih, tapi lebih kepada.....tanda tanya (????) bukan karena aku salah cabut slot atau aku memasang mur motherboar di power supply, bukan pula aku mematahkan obeng. Kala itu aku sedang merakit kembali CPU yang aku bongkar, dan sebagai fans no 1 ku, Intan (lihat account facebook-qu), ia duduk di depan ku mengamati caraku merakit. Tiba-tiba terdengar celoteh, “Udah ngomong aja, nggak usah pake kode2. Nggak perlu bisik2 lah.” Ku lihat di sekeliling. Terlihat sepasang bola mata yang mengarah kepada kami. Dan sang pemilik mata itulah yang berceloteh seperti tadi. Aku bersikap biasa saja, namun tidak bagi Intan. Ia terlalu sensitif mendengar kata itu. Ia terlalu merasa, yah secara kita selalu interlokalan, maklum kita terlalu kaya. Mungkin benar, seharusnya (aku+Intan):2=sama rata (begitu juga dengan ibu kita). Ia terlihat tenang ketika dosen orkom telah berada di ruang sauna itu. Hari ini hanya 1 kloter yang mendapat giliran, tiap kelompok mengirimkan 1 wakilnya untuk memperjuangkan, bukan, praktek BP CPU. Kelihatannya semua berjalan lancar dan semua mendapat nilai A. Congrat kawan!
Sore ini. Kumpul jurnalistik. Sebenarnya hari ini kumpul juga div.Humas, tapi ikutan jurnal aja dah. Sebelum aku cerita banyak tentang jurnal sore itu, aku ingin berhenti tertawa sebentar. (Hahahahhahhahh.......tahukah kamu mengapa kau tertawa? Divisi humas cewek terdiri dari 3 anak, aku, Lia dan Vita dengan kadivnya Ka Marcel. Yang membuat lucu adalah ketidakhadiran orang2 yang aku sebutkan. Kalau semua nggak datang, kenapa buat jadwal hari ini, haduuuhhhhh)—back to jurnalistik---new member dan sore ini rapat pertama redaksi 4pm dengan pimred baru tentunya (go Yuli...). suasana terlihat berbeda ketika tempat duduk mulai dipisah berdasarkan kedudukan dalam redaksi. Aku yang tergabung dalam percetakan segera menempatkan diri. Ku cari bangku kosong yang berada dalam deretan terakhir. Terlihat kawanku yang paling jorok disana. Ku duduk di sampingnya dan boii 6 duduk di sampingku. Tapi boii 6 justru maju ke depan ke bangku kosong tersisa. Terlihat sahabat karibku duduk sederet dengan boii 6. Ya sudah lah, ku tak memaksanya untuk duduk di sebelahku karena ku tahu dia bakal duduk dengan siapa. Dan benar pradugaku. Dan begitulah.
Keadaan mulai memanas ketika mereka-mereka mulai mengemukakan argument2 yang sepertinya memojokkan sang pimred. Keadaan yang benar2 tak ku sukai, oleh sebab itu, aku lebih asyik bermain BOUNCE di HP kawanku, tapi begitu jahatnya karena aku selalu dikatakan “BODO banget”
Ya sudah, walau demikian pikiranku masih tersambung dalam rapat sore itu. Yang membuatku terdiam setelah rapat itu selesai adalah keluhan dari sahabatku. Ia tak ada hentinya membicarakan kekesalannya, kekesalan gara-gara ada ‘pihak lain-yu no hu’ yang mengambil alih apa yang ingin ia kerjakan, menyusun dan mendesaign mading dan karena ada pihak lain, ia, bersamaku juga, hanya kebagian menempel, M.E.N.E.M.P.E.L. cukup jelas.
Dan sepanjang perjalanan pulang, pulang ke kosanku karena teman sekosannya ke kosan temannya (???) ia ngomong tiada henti. Dan disitulah ku menemukan salah satu sifatnya. Ketika ia sedang nggondhok senggondhok-nggondhoknya, maka jangan berharap kau bisa menyela pembicaraannya. Ia pun bercerita tentang sahabat lamanya yang sampai sekarang masih terjaga persahabatannya, ww. Sekarang ku berada di posisi ww yang hanya bisa terdiam, mendengar, ketika sahabatku sedang dalam keadaan kesal. Hingga...
Malam ini. Seharusnya aku berada di kosan sendiri karena teman sekosku pergi ke Jakarta Pusat ke tempat pamannya. Itu seharusnya, karena sebenarnya aku bersama Intan. Ia di kosanku karena takut di kontrakan sendirian gara-gara di samping kontrakan bernomor 23 itu ada orang meninggal. Dan aku tak merasa kesepian. Aku justru merasa gila karena kegilaan Intan. Ia sungguh aneh hari itu. Keanehan itu semakin menjadi ketika ia mendapat sms dari kakak tingkat atau lebih tepatnya senior pas di SMA dan sekarang. Begitu kagetnya ia ketika mendengar kabar tentang Ova. Ova jatuh, dan ia tak tahu bagaimana keadaannya. Spontanitas ia langsung memberi kabar ibunya yang tengah berada di desa Kuniran. Ibunya juga terlihat kaget dan ia pun langsung menkonfirmasi Vita yang saat itu tengah bersama Ova. Melihat kegilaan Intan aku pun sedikit terhanyut dalam euforia ketidakwarasannya. Aku ikut bicara ngawur. Hingga kabar itu tiba di telinga kami... “bukan Ova yang jatuh, tapi es krim yang ada di tangan Ova lah yang jatuh”
Mendengar kabar itu, bukan malah reda kegilaannya namun justru semakin marah. Ia semakin menggila. Parah, sangat parah. Aku pun hanya bisa menenangkan karena aku sudah kembali ke aku yang normal. Tapi jika aku di posisinya aku mungkin bisa lebih gila darinya. Rasa bersalah ketika kita menyalahkan orang lain yang sebenarnya orang itu tak bersalah. Malu banggeeeeeeettttttttttt......................!!!!!!!!!!!!!!!
Kegilaan Intan mulai mereda ketika ia mendapat tugas mengerjakan RLD milik teman sekamarnya. Eittsss.....tapi bisa juga karena tawaran kopi yang aku ajukan. Hahahahaha.... ia begitu antusias dan antusiasmenya itu yang aku manfaatkan untuk menghambatnya ;’//’’/’/’/’/’pulang ke kontrakannya. Lumayanlah, setidaknya tak terlalu krik krik krik malam ini......
Tipi
Golllllllllll.......
Begitulah teriakan yang ku dengar dari rumah sebelah, rumah orang tua kosan ku dan begitulah tulisan yang ku baca dari postingan2 status sahabat2ku. Malam ini Indonesia melawan Filipina. Dengar-dengar Indonesia yang memenangkan pertandingan itu dan akan menghadapi Malaysia di final. Saat ini memang sedang ada event pertandingan sepak bola akbar, AFF, atau entahlah aku tak tahu. Sudah sekitar 3 bulan lebih aku lepas dari yang namanya TV. Ku tak tahu perkembangan2 terkini. Berita, gossip, musik, sinetron, dan juga pertandingan sepak bola ini. Dan ketika ku dengar teriakan-teriakan itu kini lagi-lagi ku berpikir dan pikiranku terbang ke rumah di belakang kantor desa Kebonsari yang terpisah oleh lahan kosong tak berpenghuni.
Ku teringat beberapa tahun yang lalu. Dan aku teringat ketika kakak ku marah-marah nggak jelas saat nonton pertandingan sepak bola. Ia begitu kesal karena begitu jeleknya para pemain-pemain sepak bola Indonesia. Dan kini aku berpikir, bagaimana keadaan di rumah itu? Akankah kakak ku tertawa puas melihat keberhasilan Indonesia yang mampu melaju ke babak final? Ataukah kakak ku justru marah-marah? Marah, karena TV dikuasai adikku untuk menonton Ipin – Upin yang berulang kali di putar. Hahahaha.... geli rasanya jika aku mengingatnya. Ingat ketika aku bertengkar dengan adikku hanya karena acara televisi. Oh, kini ku malah berpisah dari TV. Hah, tak apalah, yang terpenting aku tak lupa bentuk TV. .
Langganan:
Postingan (Atom)







