RSS

Mimpi Malam ini

5/12/2011
Tidurku malam ini tak begitu nyenyak. Namun, mimpi singkat itu memberikan kesan tersendiri bagiku. Mimpi itu benar-benar menjadi bunga tidur yang mempercantik tidurku dan tentu saja harum semerbaknya terasa hingga ku terjaga kini. Aku bermimpi pergi berdua dengan ibuku. Walau aku tak tahu tujuan kita kemana, perjalanan itu terasa menyenangkan. Kami menyusuri sungai berdua. Aku tak tahu itu sungai apa dan dimana letaknya. Jelas bukan sungai yang ada di desaku dan tentu saja bukan pula sungai yang ada di Jakarta. Sungai itu bersih dan airnya pun jernih. Walau tak nampak ikan-ikan berenang disana, sungai itu terlihat indah. Yang lebih menakjubkan adalah sisi kanan dan kiri sungai tersebut. Menjulang tinggi bebatuan yang menjadi tepi sungai itu. Kami seperti jatuh dari sebuah jurang jika ada orang yang melihat kami di atas dinding batu itu. Sangat tinggi.
Kami berjalan menyusuri sungai tersebut sambil sesekali memainkan air yang bening itu. Hingga kami dapati rumpun pohon bambu yang tumbuh di sekitar sungai. Bambu-bambu tersebut mengingatkanku ketika aku masih berseragam merah putih, aku mendapat tugas untuk membuat sebuah asbak dari bambu tersebut. Lebar dan berdaging tebal tiap ruas bambu itu, sangat indah untuk dibuat kerajinan tangan macam asbak seperti itu.
Aku kembali mencoba pergi ke dunia mimpi. Mata itu tak sanggup tuk terbuka. Lelah. Ku rasa mimpi tak sekedar mimpi. Seperti  mimpiku semalam, mungkin mimpi itu muncul karena keinginan kuat tuk segera bertemu dengan kedua orang tuaku disana. Aku ingin pulang segera. Tinggal menghitung hari dan saat ini sudah terhitung 18 hari menuju kota kecil itu.

8:14 AM
Kini aku sudah kembali lagi ke meja kerjaku di 406. Aku sudah lupa mimpi tadi pagi, namun masih ingat mimpi malam itu. Setelah mimpi menyusuri sungai bersama ibuku, mimpiku berganti ke keadaan dimana aku tengah bermain di halaman rumah tetanggaku, halaman yang dulu waktu kecil aku memang sering main di tempat itu. Pohon jambu biji depan rumahnya pun terlihat dalam mimpiku. Sungguh menyenangkan melihat buah-buah itu. Mimpi itu terlihat nyata. Aku berlari, berkejar-kejaran. Sungguh menyenangkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Toloooooonggggg!!!!

Ada apa dengan hari ini?

Bangun pada jam seperti biasa. Mandi juga. Beli makan mungkin cuma telat beberapa menit. Tapi, kenapa dengan hari ini? Kenapa hari ini ketika ku injakkan kaki di rumah tercinta, 406, ke tengok jam di dinding sebelah kiri, taraaaa…jarum pendek di angka 8 dan jarum panjang di angka 12. Terlihat cool dan mengejutkan saat masuk kelas ternyata dosen yang mengajar pagi ini sudah datang dan tengah menyiapkan bahan ajar.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin ini berkaitan dengan status yang ku tulis pada jam 12.04 pm semalam? Status yang mencerminkan sebuah kebahagian walau hati ini begitu kering namun seketika basah oleh air mata. Entahlah…
Semalam batinku meronta. Ingin teriak sekencang-kencangnya namun dibatasi oleh ruang dan waktu. Air mata tak bisa keluar hanya omelan yang memecah heningnya malam.
Salah memang ketika kita harus menunda pekerjaan yang harusnya bisa di kerjakan di waktu luang.Tapi apa mau dikata, sebagai manusia biasa pasti butuh istirahat kan? Apalagi dari artikel yang ku baca kemarin, orang yang bekerja dengan otak/pikiran membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak daripada orang yang bekerja dengan fisiknya. Dan sebagai mahasiswa MI, tentu otaklah yang sering digunakan daripada fisik. Tapi, kenapa ku rasa waktu tidurku begitu sedikit ya? Tidur paling cepat jam 11.00 malam, bangun jam 04.00 pagi. Padahal orang yang kurang tidur beresiko meninggal lebih cepat dibanding mereka yang tidur cukup.
Well, fokus pada kejadian semalam, di saat pikiran yang sudah bebal dipaksa tuk terus berpikir untuk membuat sebuah paper. Apa itu paper? Itulah yang menjadi major problem. Kami minggu lalu kami mendapat tugas untuk membuat sebuah paper dari dosen Bahasa Inggris. Berhubung ada masih ada waktu seminggu untuk mengerjakan maka kami mengerjakan tugas yang lain terlebih dahulu. Hingga siang kemarin ketika seminggu menjadi sehari dan sehari menjadi semalam. Aku belum menemukan tema paperku. Aku terlalu banyak berpikir "Apa sebenarnya paper itu?"
Toloooooooooonggggg....!!! 
Kemarin aku sempat bertanya pada dosenku secara SMS. Itu pun karena dorongan si Intun. Dan karena bertanya itulah aku justru semakin bingung.
Mas Sulkhan, dosen pengganti Mas Radix kini tengah menjelaskan tentang tracing. Sesaat sebelumnya, saat Mas Sulkhan menjelaskan tentang user control (yang tak ku mengerti dan aku justru tetap asyik menulis) datanglah sebuah SMS yang menanyakan apa kabar budgeting dan PEMIRA? Oh tidak. Maaf semaaf-maafnya karena saya tidak menyentuhnya sama sekali. Ya, ya, ya. Tanggal 16 Desember besok (15 hari lagi) adalah PEMIRA 2011. Tak perlu dijelaskan apa itu Pemira, yang jelas karena aku anggota MPM maka aku ikut dalam kepanitiaan Pemira 2011 ini. Aku terpilih sebagai sie Publikasi dan Dokumentasi atau yang lebih dikenal dengan Pubdoc dimana saat pembentukan kepanitiaan, aku nyaris dijadikan sebagai ketua PEMIRA 2011. Tidak, terima kasih. Aku menjalankan kewajibanku sebagaimana mestinya; membuat pamflet. Tapi rupanya aku mendapat job tambahan; menyusun budgeting dan membuat OSP. Wah, great job, thank you. :"|
"Tracing membantu saat development untuk identifikasi masalah." Suara Mas Sulkhan tak membuat ku berpaling dari menulis. Pikiranku tak menyatu dengan layar LCD yang ditampilkan. Aku justru kepikiran tadi pagi saat Anggun pagi-pagi datang ke kosan dan ketika melihatku ia berkata, "Mi, dicari Mbak Wiwik!"
hwaaaaaa....ada apaaaa????
"Ditanyain gimana proker Keputrian!" lanjut Anggun.
jedhEEEennngggg!!!!! Gimana ini? Toloooooonnggggg!!! Sabit Sabtu besok aja belum dipublikasikan gimana mau ngurus kayak gituan. Haduuuuuhhh...!!!
Apa benar ini semua ada kaitannya dengan statusku semalam (malam atau pagi ya?). Terima kasih  pada kalian yang memberikan jempolnya pada status saya. Beginilah kira-kira bunyinya
benar-benar H-22
Selamat datang bulan Desember
KAMI sudah menantikanmu
"Ada pertanyaan?" Mas Sulkhan menyapa kami. Hening. Tak ada yang memperhatikan (termasuk aku), hanya segelintir orang yang menatap layar lebar di depan. Kini materi sudah di modul 8, penggunaan user control.
Pulaaanggg...aku ingin pulaaang...tahukah kau kalau aku ingin pulaaaannggg...terlalu banyak yang dipikirkan disini...sejenak ingin ku lupakan dunia Polman ini...Toloooooooonggg
Sejenak aku ingin meninggalkan kehidupan ini
kemana kek...
Sejenak aku ingin lari dari kenyataan ini
apa kek...
Hah. Sudahlah. Ku rasa cukup aku menuliskan kepusingan ini. Bagi para pembaca, bukan tanggung jawab saya jika setelah membaca tulisan ini kalian ketularan pusing. Sekian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Minggu Kelabu

11/27/11
Hening, kosong, dan hampa. Bosan, suntuk, dan ngantuk, itulah yang ku rasa kini. Makan dan tidur adalah pekerjaan rutin akhir pekan.  Bosan tidur maka laptop dibuka sekedar online di jejaring facebook yang tak seramai dulu. Sungguh akhir pekan yang menyedihkan dan hari ini adalah hari minggu kelabu.
Di rumah berenam kamar yang disewakan sebagai kosan ini hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang, tak seramai jika semua penghuni kamar ada di kosan. Aku bersama teman sekamarku pun termasuk orang yang selalu stay di kosan, tak ada pekerjaan, tidak ada kegiatan, tidak ada yang mengajak jalan, hanya menikmati sunyinya kosan. Entah dimana penghuni lainnya, mungkin pulang ke rumahnya, pulang ke tempat saudaranya, atau justru jalan-jalan dengan pacarnya. Mungkin juga ada yang mengerjakan project kecilnya seperti penghuni kamar depan kamar.
Aku ingin seperti mereka yang tiap pekannya pulang ke rumah merasakan hangatnya rumah. Walaupun sebenarnya kosan sudah hangat (bahkan panas) tak ada yang bisa menggantikan hangatnya keluarga. Tidak seperti sekarang ini berduaan dengan orang yang sama mengenaskannya denganku. Hanya bisa berucap bersama-sama, “Aku ingin pulang”. Bagaimana tidak, perjalanan menuju sweet home membutuhkan waktu paling tidak 13 jam. Tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk menempuh perjalanan panjang itu. Jumat sore berangkat, Sabtu pagi sampai rumah, Sabtu siang istirahat, Minggu pagi jalan-jalan, dan Minggu sore kembali berangkat menuju kota perantauan. Banyak sudah yang melakukan perjalanan itu, tapi bagi kami, terlalu letih dan terlalu nekat untuk melakukan perjalanan tersebut. Hingga hari ini, hampir 3 bulan kami menikmati akhir pekan yang menyedihkan.
Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa kalian tidak jalan dengan pacar kalian?” PACAR? Terbuat dari apa makanan itu? Yang kami tahu adalah agar-agar rasa coklat yang saat ini kami masak. Apakah pacar juga manis seperti gula yang ku tuangkan ke dalam adonan agarku? Tak tahulah. Sepertinya kami masih terlalu kecil untuk menikmati apa itu pacar.
Sebenarnya ada banyak yang hal yang bisa kami kerjakan. Berpetualang mungkin?! Secara sudah setahun kami disini, hanya beberapa tempat yang baru kami kunjungi. Selebihnya hanya kami lewati, itupun tak semuanya. “Lantas kenapa kalian tak berpetualang?” Apa yang ada di benak kalian ketika melihat 2 gadis mungil di tengah jalan tersesat tak tahu arah dan lihatlah mukanya yang penuh peluh karena teriknya sang mentari. Bayangkan kembali jika kedua gadis mungil itu adalah aku dan teman sekamarku. Akankah kalian akan tertawa? Atau justru merasa kasihan? Atau iba hingga kalian memberi recehan kepada kami? Tidak. Terima kasih.
Kini ku dan nya menanti agar yang baru saja kami tuangkan ke wadah yang entah siapa pemiliknya. Pembuatan agar kali ini tergolong berhasil, tidak seperti waktu itu, ketika si kecil Miyako menyemburkan isi yang dikandungnya. Ku rasa sekarang sudah cukup mengeras.
Ragunan :)
Entah apa yang ku pikirkan sesaat, sepertinya sama dengan yang ia pikirkan. Mau apa kita? Kami senang mendapat libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Kenapa? Karena kami bisa terlepas sejenak dari dunia perkuliahan. Walau ada tugas setidaknya kami diberi kesempatan 2 hari untuk tidak memikirkannya. Akan tetapi mengapa akhir pekan kami seperti ini? Begitu membosankan dan bingung tuk beraktivitas. Belajar? Siapa pula yang belajar di akhir pekan seperti ini. Nonton TV? Bukan karena gambar yang tidak jelas, tapi lebih kepada minat kami yang semakin lama semakin surut dengan acara-acara di TV. Tidur? Dalam sehari kami bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 jam untuk tidur. Belanja? Maaf, uang kami terbatas. Jika saja kami punya pohon uang, pasti mal-mal besar itu sudah kami beli. Jalan-jalan? Kalian ingin lihat kami tersesat lagi. Lagi? Iya. Kami pernah tersesat. Sungguh mengenaskan. Agustus lalu, di awal-awal bulan Ramadhan, aku meminta dia untuk mengantarku ke Harco, menyembuhkan Acep yang tengah sakit. Dan karena dia ingin membeli flash disk titipan kawannya, maka ia pun mengiyakan. Sebelumnya kami pernah ke Harco namun dengan kendaraan umum. Metromini 27 atau busway. Akan tetapi siang itu kami memilih bersama Ova “Onky” untuk pergi kesana. Berbekal ilmu yang minim tentang jalan di ibukota, kami memulai perjalanan itu. Yang kami tahu, cukup mengikuti jalur busway arah Ancol, maka kau akan sampai ke Harco. Kami ikuti jalur itu, hingga di perempatan itu. Rupanya busway dengan arah yang sama mempunyai rute yang berbeda. Satu menuju Ancol dan satu lagi menuju Monas. Dan sialnya kami mengikuti arah menuju Monas. Maju terus mencari belokan berbalik arah. Jauh juga rupanya. Soal panas jangan ditanya. Sudah tentu panasnya tiada terkira, apalagi dalam keadaan puasa. Ya, beginilah hidup. Akankah ‘tersesat’ akan terulang kembali?
Sebenarnya akhir pekan seperti ini aku ingin sekali jalan-jalan, tapi beramai-ramai. Seperti saat itu, pergi ke Ancol atau ke Ragunan. Nyasar, nyasar bareng. Capek, capek bareng. Satu tempat wisata yang sampai saat ini aku masih ingin kesana walau semua kawanku tidak menyukainya, Mekar Sari. Mereka lebih memilih untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Keinginan setiap orang memang berbeda. Mekar Sari, mengingatkan ku jaman SMA dulu. Kecintaanku pada dunia tumbuh-tumbuhan khususnya buah-buahan membuatku bermimpi suatu saat aku punya taman buah seperti Mekar Sari dan akan ku beri nama Mekar Putik. Khayalan konyol. Mungkin takkan pernah terwujud. Tak apa. Tapi ku harap setidaknya sekali dalam seumur hidupku aku pernah ke Mekar Sari. (Lebay).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Telpon Sore Ini

Tahukah kau kawan jika sore ini baru saja ditelpon ibuku. Yippyy. Terakhir kali ditelpon kapan ya? Sepertinya bulan lalu saat aku stress tingkat dewa. Dan apakah telepon kali ini dikarenakan aku stress kembali? Oh, tidak. Telepon kali ini hanya konfirmasi apakah aku akan menggunakan kereta Senja Utama atau Fajar Utama. Hmmm... akan kemanakah aku?

Seperti statusku hari ini "H-27", mungkin semua warga Polman ASTRA tahu apa maksudnya. Secara tanggal itu adalah tanggal yang dinanti-nanti. Mari kita hitung H-27. Sekarang tanggal 26 November maka 27 hari lagi adalah tanggal dimana Polman sepi karena para warganya melakukan perjalanan panjang. Ya, walaupun ada yang bilang libur tanggal 23 Desember masih belum fix libur, tapi kebahagiaan sudah terasa. Bayangkan, hampir 4 bulan tak merasakan masakan emak, betapa keringnya hidup ini.
Dan saat ini, aku menantinya, 23 Desember 2011, tanggal dimana aku melakukan perjalanan panjangku untuk pertama kalinya di tahun keduaku. Sepertinya di tahun ini aku takkan kesepian dan sendiri karena aku punya adek sekarang. Well, di tahun pertamaku sudah 5 kali perjalanan panjang yang aku tempuh. Tahun pertama yang penuh cerita. Mulai dari tas hitam yang ku beli di Ramayana (dengan harga yang fantastis tentu saja) dirobek orang (beruntung tak ada yang hilang) hingga akhirnya aku harus kehilangan C3ku. Tak hanya itu. Banyak pengalaman yang tak terlupa. Perjalanan ketiga kalau tak salah, dimana aku nekat tidak masuk kuliah hari Jumat. Ya, kamis libur dan aku memanfaatkannya. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang mudah bolos. Walaupun hari itu hanya satu mata kuliah dan bahkan kosong aku pasti tetap akan berangkat kuliah. Tapi berhubung saat itu sudah sangat dan amat ingin pulang, maka untuk pertama kalinya aku bolos kuliah. Lima hari aku di rumah cukup mengembalikan semangatku. Entah kenapa aku kembali ke Jakarta menggunakan bus (sepertinya karena di perjalanan panjang keduaku saat aku kembali ke Jakarta menggunakan kereta ekonomi, kejadian robeknya tasku terjadi sehingga perjalanan ketiga menggunakan bus). Jadi, ceritanya minggu sore aku berangkat dari rumah. Biasanya kalau perjalanan lancar maka jam 6 pagi sudah bisa dipastikan aku sampai di Jakarta. Sayangnya perjalanan tidak lancar. Baru berjalan berapa kilo dan belum keluar kota, bus sudah harus ganti ban. Lama nian. Dan akhirnya aku pun sampai di Jakarta jam 8.30 pagi. Padahal, saat itu adalah jam mata kuliah Manajemen Produksi. Sesampainya di kosan mandi sebentar dan untuk pertama kalinya naik ojek sepeda menuju kampus. Di kampus rupanya teman-teman sedang duduk-duduk di depan 406, markas besar MI 2010 Family. Ternyata dosen ManProd tidak hadir. Huh, lega.
Hmmm...apalagi ya? Oia perjalanan pertamaku. Aku pulang pertama kali naik bus. Tiket bus pun dibelikan kawanku. Tiket bus Sumber Alam di Pulo Gadung dimana aku belum pernah ke Pulo Gadung. Aku hanya diberitahu kalau aku harus naik 41 agar sampai di terminal Pulo Gadung. Berhubung aku tak tahu wujud terminal Pulo Gadung, maka saat metromini berhenti di antara angkot-angkot yang cukup banyak maka aku pun turun karena ku lihat ada penumpang yang membawa banyak tas yang juga turun. Ku kira sudah sampai di terminal. Dan saat aku bertanya pada orang disekitar situ ternyata aku harus naik 41 tuk sampai ke terminal. Ya, aku salah turun. (-.-)".
Akan tetapi, dari sekian perjalanan yang paling menyedihkan adalah perjalanan terakhir kemarin. Sudah diturunkan di daerah yang tak ku kenali, aku juga harus kehilangan nomor kesayanganku.  Bagaimana ceritanya hingga aku harus diturunkan di Pondok Ungu, kawasan yang bisa dibilang daerah Bekasi. Beruntungnya ada mbak-mbak yang juga ingin ke Pulo Gadung, jadi kami naik angkot dari Pondok Ungu ke Pulo Gadung. Kami berpisah di Pulo Gadung. Mbaknya naik busway dan aku sholat subuh terlebih dahulu. Seusai sholat subuh aku meneruskan perjalananku dengan naik metromini 41. Sialnya saat turun di Plumpang, HP yang belum genap 1 tahun itu harus melayang ke tangan orang lain. Sedih. Tapi yang membuat sedih karena aku harus kehilangan nomor yang menemaniku empat tahun lebih, 081915459085. Sampai sekarang pun aku masih mengingatnya. Tak terlupakan. Hmm... semoga pengalaman-pengalaman buruk itu takkan terulang di tahun keduaku.
Aku tak ingin kembali ke Jakarta dengan bus, itulah yang ku katakan pada ibuku. Ibuku pun tahu akan hal itu. Oleh sebab itulah, untuk persiapan kembalinya aku dari perjalananku besok, sore tadi aku mengirim SMS ke ibuku untuk menyiapkan tiket kereta untuk tanggal 1 Januari. Tak ingin aku kehabisan tiket seperti waktu itu. Tahukah kau apa yang ibuku katakan sore tadi saat menelponku? Besok lagi jangan bikin kredit lagi. Kemarin balik ke Jakarta lebih cepat karena untuk bayar kredit kan? Besok-besok nggak usah ikut lagi biar puas di rumah dan tidak kehabisan tiket. Iyya, ibu. Yang membuatku senang adalah jawaban ibu saat ku katakan harga tiket kereta bisnis mencapai 190 ribu. Kau tahu jawaban ibuku? Yo ra po po to? Ora sesasi pisan kog! Aku yakin toh kalau aku pulang sebulan sekali pun ibuku pasti akan memberikan yang terbaik untukku. Terima kasih, Ibu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sepatuku???

11:11 AM
Kata orang, siapa saja yang melihat angka tersebut pada jam digital atau alat penunjuk waktu lainnya, ia akan bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya. Hmm..mungkin itu hanya kata dia. Yang jelas, benar atau tidaknya mitos tersebut, saat ini aku ingin bertemu dengan sepatu.
Hey sepatu, dimana kau?
Seperti kebiasaanku di kelas, ketika aku menumpukan badanku di sebuah kursi di depan meja kerjaku, aku selalu melepas sepatuku, menaikkan kedua kaki ke kursi, duduk bersila. Tak ada yang keberatan dengan sikapku yang satu ini. Aku justru menemukan seorang teman yang memiliki kebiasaan yang sama. Sayangnya ia tak masuk kuliah hari ini. 
Hingga tragedi ini terjadi. Walau bukan untuk yang pertama kalinya, kali ini cukup mengesalkan. Beginilah ceritanya.
Pagi ini aku bangun kesiangan (sepertinya ini tak ada hubungannya). Aku tiba di kampus sudah pukul 7.30 lebih (ini juga tak ada hubungannya, namun inilah awal ceritanya). Sudah terlambat. Tak apa. Hari ini mata kuliah Pemrograman 5. Sang dosen masih menunggu teman-temanku yang belum berdatangan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sang dosen mulai angkat bicara. Sambil membawa selembar kertas di tangannya ia menuju papan tulis.
"Hari ini kita bagi kelompok kecil ya." kata sang dosen sambil menuliskan nama-nama warga 406 di papan tulis.
Aku tak bisa melihat jelas nama-nama yang dituliskan sang dosen. Kacamataku tertinggal di atas lemari kosan. Kini, aku pun tak peduli siapa kelompokku karena seperti yang sudah pernah ku tuliskan "Terserah kau akan berkelompok dengan siapa saja, yang terpenting kau bisa berkomunikasi baik dengannya." Hingga empat kelompok, namaku belum tertulis. Rupanya di kelompok 5 lah namaku disematkan, Zaitun. Aku satu kelompok dengan pemilik blog Gudang Ingatan dan satu lagi, warga no. 13. Well, nice group!
"Tugasnya adalah kalian membuat Toko Online dimana setiap kelompok berbeda-beda."
Oke. Setelah semua mendapat kelompok masing-masing, kami mengelompok sesuai dengan kelompoknya. Dan aku bertiga bersama kelompok mengelompokkan diri di pojokan. Berdiskusi. Dan walau pun aku tak berada di meja kerjaku, aku tetap melakukan kebiasaanku. Kaki naik kursi. Taraaaaaa....
Kelompok 5 pun mulai merancang Toko Online kami, dan muncullah ide cemerlang itu. Toko Bunga Online, GUMILAY Florist. Dan di tengah kesibukan kami merancang Toko Online ini, salah satu orang dari Pakaian Online berkunjung. Rupanya ia berkunjung tak sekedar berkunjung. 
Setelah rancangan kami buat, kini saatnya kami mengajukan rancangan kami tersebut kepada sang penanam saham (sang dosen). Di saat itulah, aku mulai sadar. Sadar akan hilangnya sepatuku sebelah kanan. Sepatuku dimanaaaaaaaaaaa???hwaaaaaaaaaa.....toloooonnnggggg...
Baiklah aku menghadap sang dosen. Upz, rupanya sang dosen sedang tidak bersepatu. Sama mbak, ya ampuuunn...tapi sepatunya nggak hilang kan ya mbak? lantas sepatuku dimana?Aku sudah keliling kelas, membuka seluruh lemari tetap saja tak ada. Mungkin aku kurang teliti. tapi? Aku sudah bertanya pada si 'orang' dari Pakaian Online. Hmm...dia hanya memberi clue, "masih inget nggak dulu pas ilang, sepatunya dimana?"
Hmm...'orang' ini adalah orang yang dulu juga pernah menggelapkan sepatuku. Hingga saat ini, keberadaan sepatuku belum juga ditemukan. Tooloooooooooonngggg!!!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS