RSS

hzZzZZzz...

Pagi ini, begitu konyol kejadian pagi ini. Baru beberapa menit aku menduduki meja itu, langsung roboh lah singgasana rapuh itu. Entah bagaimana nanti malam sang pemilik singgasana akan menguasai meja itu.
Kini aku terkurung dalam keadaan yang selalu mengurungku. Mengantuk.


Oh, GOD kenapa selalu begini...? padahal dari awal aku niatkan untuk mengubah semua sikap burukku ini. Semua yang ku tulis sepertinya tidak mempengaruhi sikapku. Sepertinya aku harus membuat reward and punishment. Tapi aku tak tahu R n P itu sendiri berbentuk apa? 
Hah. Break sebentar di tengah-tengah mata kuliah Sistem Operasi. Beberapa menit yang lalu aku nyaris kehilangan kesadaranku di alam  nyata. Namun, saat break ini mata ini sedikit terkejut, lebih bisa terbuka.
Aku tak yakin dengan hasil belajarku di semester ini. Semuanya terasa baru dan asing. Tak seperti mata kuliah di semester 1. Ada matematika, bahasa Inggris dan agama. Mata kuliah yang mampu mendongkrak nilaiku. Tapi, kali ini.....?!!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENGEN POSTING

Aku baru saja membaca habis sebuah blog baru milik kawanku. Rasanya aku ingin mempostingkan sebuah tulisan di blog ini. Sudah lama aku vakum dari dunia blog. Liburan lebaran yang cukup panjang kemarin membuatku terisolasi dari dunia mayaku. Tak ada koneksi internet.
Akan tetapi, bukan berarti aku berhenti menulis. Aku relakan pulsa HP ku untuk terhubung dengan jaringan sosial facebook untuk sekedar menulis note. Dan seperti biasa, ketidakjelasan lah yang tercipta. Tak mengapa bagiku. Ketidakjelasan is my style.
Berbicara hari ini. Apa ya yang aku dapat. Hmmm... aku malah teringat kejadian-kejadian penting yang belum aku abadikan dalam tulisan di blog ini. Mulai dari tragedi 41, ikut kepanitian PPK dimana aku memegang peran sebagai Sie Konsumsi. Seksi yang tak terlihat kerja karena jam kerja kami (Sie Konsumsi) adalah jam 1 hingga jam 3 pagi. Masih teringat benar ketika jam 1 pagi aku harus keluar dari kosan menuju kosan teman untuk membungkus makanan yang nantinya akan dibagikan ke teman-teman yang tergabung dalam panitia PPK. Kejadian berikutnya saat aku ikut menjadi pendamping saat Outbond bagi camaba 2011 dan harus dikejutkan oleh medan/area outbond di Ciulengsi,Bogor. Setibanya disana begitu kaget karena tak seperti angkatanku dulu yang ketika sampai di area outbond disambut hujan, kali ini kami disambut teriknya sang mentari. Panas bukan main. Apalagi ditambah upacara pembukaan di lapangan upacara yang begitu terasa memanggang kami.
Kami, para pendamping, 10 orang yang terpilih mencoba menikmati keadaan yang ada. Walau amat sangat berbeda dengan outbond angkatanku,3 hari 2 malam akhirnya berlalu. Walau harus dihukum di malam pertama kami, kami tetap senang sebagai pendamping. "Nangkep ga?" kata-kata yang memojokkan kami hingga kami harus dihukum(jongkok-berdiri-jongkok) lebih dari 1 jam. Tak apalah. Menyenangkan.
Sepulang outbond, kegiatan dilanjutkan dengan inagurasi di hall, Gd. C lt 4 Polman ASTRA. Aku berharap saat itu namaku dipanggil sebagai salah satu mahasiswa yang masuk 3 besar. Namun, keadaan berbeda dengan yang ku harapkan. Namaku tidak dipanggil. Walaupun IPKku sama dengan ia yang berada di peringkat 3, nyatanya hanya 3 orang yang mendapat hadiah. Bisa dibilang aku peringkat 3 kedua (walau tetap tak dianggap sebagai peringkat 3), tapi karena namaku yang awal huruf Z, maka aku relakan posisi 3 besar itu. Beruntung aku tak sendirian karena temanku yang berada di prodi TO pun merasakan hal yang sama denganku. Ku berharap aku di tingkat 2 ini bisa meningkatkan peringkat di posisi ke-2.
Inagurasi selesai. Sabtu, Minggu libur dan ku gunakan untuk istirahat, berhibernasi. Senin aku kembali ke dunia asliku, menjadi mahasiswa.
Aku begitu senang karena markas MI 2010 Family tetap di 406, walau dengan layot yang baru. Komputernya pun baru. Dan ternyata ada sistem baru yang diterapkan di Polman. OES atau Online Education System. Kita bisa chatting antarsesama pengguna komputer. Cukup seru, namun harus bersabar karena jaringan internet masih belum bisa terkoneksi.
Dan hingga hari ini. Sudah banyak tugas yang menanti. Banyak kegiatan yang harus dijalani. Tugas kuliah, Tugas organisasi. Cukup bingung memikirkannya. Apalagi sms malam ini yang menugasiku untuk menyusun acara Pemira mulai dari cara pelaksanaan hingga tanggal pelaksanaan. Konsep itu harus dikumpulkan Selasa depan.
Hah. Tiba-tiba saja melintas tugasku yang lain untuk menyusun acara untuk kegiatan Makrab MI tahun ini. Tugas lain juga tetap menanti untuk diselesaikan.
Ayo SEMANGAT!!
I KNOW I CAN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mahalnya Ego


23 September 2010
Demikianlah tanggal yang terbaca saat ku bersama ke-30 saudaraku membuka amplop yang kami tulis setahun yang lalu. Surat dari dan untuk diri sendiri itu kami tulis di D’Jungle, tempat dimana kami memulai persaudaraan ini. Belum tepat setahun memang, namun sudah saatnya surat itu kembali ke tangan kita masing-masing.
Surat yangberisi komitmen dan usaha untuk mencapai komitmen itu mengingatkan kita akan apa yang sudah kita lakukan untuk komitmen tersebut.
Surat itu benar-benar menampar kami, tak terkecuali aku. Bukan, bukan karena komitmenku yang tidak tercapai. Aku hanya menuliskan 1 komitmen yaitu IP yang harus aku capai. Beruntungnya aku karena komitmen itu bisa terealisasikan. Tahukah kalian mengapa surat itu seakaan menamparku?
Ku lihat sekitarku. Air mata itu perlahan membasahi wajah-wajah lelah mereka. Sebagian besar dari mereka belum bisa mencapai komitmen mereka, dalam hal ini masalah IP. Aku hanya tertegun mencoba menatap diriku sendiri. Selama ini aku tak benar-benar yakin akan kemampuan yang ditunjukkan oleh KHS yang ku terima awal April lalu. Memang hampir semua bernilai A. Namun, jika A tersebut ditransformasikan ke dalam bentuk angka mungkin hanya mencapai 86. Sementara mereka-mereka yang IPnya di bawah ku bisa mentranformasikan nilai mereka ke nilai 97, sayang nya mereka kurang beruntung di satu dua mata kuliah. Dan sekali lagi aku bertanya, mengapa aku bisa tertampat oleh sepucuk surat tak bersuara itu?
Aku menargetkan IP di atas rata-rata dan beruntungnya aku, IP itu bisa ku raih. Yang menjadi permasalahan adalah ketika seseorang bertanya, “Bagaimana kau bisa memperoleh nilai sebagus itu sementara kau selalu menjawab tak bisa saat orang lain menanyakan sesuatu kepadamu?” Secara lugas begini, ketika seorang kawan datang meminta bantuan “Ajarin vektor dong!” dan terdengar jawaban, “Wah, aku kurang bisa menguasai materi itu, kemarin waktu Bu Nuri ngajar, aku malah ngbrol sendiri.”
Secara jujur dan meminta maaf, aku mengakui aku salah. Aku minta maaf karena aku lebih memikirkan diriku sendiri dari pada kalian-kalian. Aku masih mementingkan bagaimana aku, bukan KITA. Harusnya aku sadar B-B jauh lebih baik daripada A-C.
Maafkan aku kawan. Bukan karena aku tak ingin membantu, berulang kali aku mencoba menurunkan egoku, namun itu semua tak semudah menambahkan tanda titik (.) di akhir kalimat. Ditambah dengan raut mukaku yang terlihat seperti orang marah-marah saat menjelaskan suatu materi. Sungguh, itulah diriku, seperti itulah caraku menyampaikan sesuatu. Tak ada marah atau pun emosi. Maafkan aku jika itu membuat hati yang terluka.
Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku ingin kita tetap bersama, bertigapuluhsatu selama 3 tahun. mari kita saling bantu. Hilangkan segala rasa malu untuk bertanya, namun, bertanya pun ada sopansantunnya. Semoga kita tetap kompak dan komitmen kita bisa tercapai semua. Amin [for MI Family]
And specially for me,,
TURUNKAN EGO!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahagia Hari Ini

“Iman tak dapat diwarisi..
Dari seorang ayah yang bertaqwa..
Ia tak dapat dijual beli..
Ia tiada di tepian pantai..”

Demikian sepenggal lagu dari Raihan yang dibawakan oleh kami, [ladies] Asy-Syabab Voice. Kami??? Ya, aku ikut ambil bagian dalam nasyid ini. Nasyid untuk acara yang sudah direncanakan sekitar 2 bulan sebelumnya. Aku pun tak tahu menahu mengapa aku bisa digabungkan dalam group nasyid yang latihannya super mendadak. Benar-benar fokus latihan adalah malam sebelum hari H, hari ini.
Acara yang digelar Keputrian Rohis Asy-Syabab kali ini benar-benar lancar, selancar perasaan senangku dan rasa cintaku pada-Nya. Terkesan lebay dan memuakkan, namun, hari ini aku benar-benar senang.
Mulai dari seminar yang berjalan dengan mulus walau hanya dengan 60 peserta dan sekitar 30 panitia. Walau peserta kurang dari target yang ditentukan, semangat kami sebagai panitia tak sedikit pun turun.
Pada seminar kali ini, aku tak mendapat tugas MC, Moderator, Bagian registrasi atau yang lainnya. Rupanya aku ditempatkan di ruangan terisolasi sehingga aku tak bisa mendengarkan materi yang jauh dari pembicara. Rupanya, aku yang dari awal ditunjuk sebagai sekretaris harus menjalankan tugas mulia yang satu ini, mengeprint sertifikat. Beruntung aku ditemani kembaranku, Siti, sehingga aku tak merasa sendirian. Cukup lama aku berkutat pada keadaan yang sama, memilih layout dan print A4 dengan layout harus terlihat semua. Semua terlihat begitu mudah namun tidak prakteknya. Beberapa kertas sudah menjadi trial paper. Tak ada yang memuaskan dan akhirnya kami membuat keputusan yang sangat berat, memotong kertas itu sesuai dengan hasil yang sudah tercetak. Waktu terus berputar. Rencana itu berjalan lancar.
Setelah semua nama tercetak pada kertas tebal warna kuning itu, aku harus naik ke atas menemui Mbak Wiwik, pembina keputrian yang berhak menandatangani sertifikat tersebut. Aku ditemani Ka Lita, kakak tingkat yang dulunya pernah ku cetuskan sebagai Ijam alias Ibu Jamur. Kami berdua naik 1 lantai ke lantai lima. Pintu lantai 5 tak secara mudah bisa diakses dari luar sehingga kami pun harus memanggil seseorang yang berada dalam ruangan untuk membukakan pintunya.
Pintu pun terbuka. Aku dan ka Lita masuk menemui Mbak Wiwik yang ditemani 2 orang rekan kerjanya yang masih balita. Mereka adalah putra-putri Mbak Wiwik. Satu berumur 4 tahun dan adiknya berumur 2 tahun. Mereka terlihat lucu walau tak menggemaskan, setidaknya mereka tak menjengkelkan.
Bertemu Mbak Wiwik, kami mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangan kami. Mbak Wiwik pun mengerti, namun ia meminta salah satu dari kami mengambilkan jajan yang ada di lantai 4. Takutnya, anaknya rewel di tengah-tengah pekerjaannya. Akhirnya ka Lita yang turun dan aku stand by di atas bersama 2 malaikat kecil nya Mbak Wiwik. Aku tak tahu nama mereka namun ku rasa mereka adalah anak-anak yang cerdas. Ia, yang berumur 2 tahun sudah bisa berhitung 1 sampai 10. Ia pun mengerti gambar-gambar yang muncul di layar monitor meja kerja Mbak Wiwik. Sementara itu, kakak nya asyik dengan alat tulis yang ada di depannya. Sementara aku, menjaga keduanya dengan harapan ka Lita segera hadir menyusulku. Hingga Mbak Wiwik menyelesaikan pekerjaannya, ka Lita belum muncul dan akhirnya aku harus turun sendirian dengan berlembar-lembar sertifikat yang sudah bertanda-tangan dan dicap.
Aku langsung menemui ka Lita. Rupanya ia tadi sudah naik ke atas dan menghubungiku lewat HP yang ternyata tertinggal di ruang sekretariat. Tak apalah menjadi baby sitter sejenak.
Permasalahan kembali saat muncul saat OB yang selalu bertugas di fotocopyan tidak datang. Mau tak mau kami harus ke fotocopyan terdekat. Acara seminar yang sudah selesai dan saat itu diisi oleh promosi Polman Astra membuat keadaan semakin genting. Akhirnya aku dan ka Lita(lagi) segera meluncur. Dengan keahlian Pedrosa, ka Lita memboncengkanku hingga beberapa kali aku harus menahan nafas. Alasannya simple, takut jatuh.
Rupanya Alloh sangat baik. Kami datang tepat waktu. Namun, di akhir pembagian sertifikat ada beberapa yang komplain. Baiklah, kami layani dengan tangan terbuka dan senyuman lebar. Semuanya begitu sempurna dan bahagia.
Kebahagiaanku tak berhenti sampai sini. Sore hari setelah aku bersama paketanku tidur aku mendapatkan sms dari Indra (sebut saja demikian). Padanya, aku titip tiket kereta untuk kepulanganku yang ketiga. Aku tahu tiket sudah habis terjual, tapi aku percaya ia bisa mencarikan satu lembar tiket untukku. Dan benar saja, sekitar jam 7 lebih, Indra datang  ke kosanku dengan seorang temannya, Rohmat (sepertinya nama sebenarnya), dan tentu saja dengan satu buah tiket di tangan walau harganya  lebih mahal dari yang tertuliskan di tiket. Dengan datangnya tiket itu, satu masalahku pun teratasi. Setelah kemarin ditanya oleh kawanku mengapa aku terlihat tenang karena H-5 aku belum dapat tiket, kini semua terjawab. Lebih menggembirakan lagi, aku bisa satu gerbong dengan mereka. Tak ku sangka, Alloh mengaturnya begitu indah. Aku yang biasanya pulang sendirian, kini aku ada temannya. Semoga semuanya seindah bayanganku.
Bahagiaku tak sampai disitu. Malam ini aku bersama partner yang biasa ku habiskan waktu malamku bersamanya jalan-jalan menuju tempat yang bisa mengganti galon kami yang beberapa hari ini terlihat kosong. Jauh-jauh kami berjalan hingga ke mart-mart yang berhadapan itu, rupanya keduanya kosong. Pulang lah kami dengan galon kosong. Aku pun merekomendasikan untuk ke warung yang agak jauh di depan kosan. Berharap sang penjaga warung bisa mengantar itu ke kosan kami. Sayangnya yang jualan adalah ibu-ibu, bukan bapak-bapak yang sebelumnya pernah ku membeli galon padanya. Dengan modal nekat pasti bisa, kami menjunjung galon itu. Berat. Aku tak kuat membawanya hingga pertigaan.
“Eii..tolong bantuin!” teriak teman kosku pada pengendara motor berkaos merah dengan orang yang memboncengnya pun berkaos merah.
“Tolong bawain galon ini ke kosan dong!” pintaku.
Ia pun dengan sigap langsung membawanya dan meninggalkan kami. Dua orang yang tak asing karena keduanya ku temui sekitar jam 7 tadi. Dua orang yang sama. Hari ini rupanya Alloh menunjukkan kasih sayangnya padaku lewat mereka. Mereka, semua orang yang mengisi hariku mulai dari aku membuka mata hingga mata ini tertutup.
Terima kasih kawan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mmmm


Baru saja aku membaca separo novel karangan Tere Liye berjudul Bidadari-Bidadari Surga. Sebuah cerita yang menceritakan perjuangan seorang kakak demi melihat keempat adikknya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang setinggi-tingginya dan tak membiarkannya tumbuh dewasa hanya di lembah yang membesarkan mereka.
Aku terhenti di halaman 215. Pada bagian itu sedang seru-serunya membahas Dalimunte, anak kedua dari Wak Lainuri yang merupakan adik pertama Laisa(sang kakak).  Dalimunte tetap bersikeras tidak ingin melintas sebelum kakaknya menikah terlebih dahulu.
Sebenarnya aku ingin melanjutkan kisah yang lagi seru-serunya itu. Namun, aku terhenti karena niatku untuk menulis ini karena menulis akan lebih mudah saat niat itu datang. Apa yang ingin aku tulis? Sedikit banyak akan berhubungan dengan novel yang ku baca.
Sekarang tanggal 8 Mei 2011. Itu berarti umurku telah 19 tahun, 1 bulan, 2 hari. Kurang 11 bulan lagi aku akan berkepala dua. Sungguh tak ku sadari aku sudah setua itu. Padahal aku masih ingat seberapa lamanya aku menangis waktu aku dititipkan di rumah nenekku di saat usiaku belum memasuki dunia sekolah. Rasa erut dan ganyong rebus buatan nenek pun masih terasa. Apalagi belut bakar hasil tangkapan paman saat paman bekerja di sawah. Hingga kini aku telah tumbuh menjadi seorang remaja yang masih punya jiwa kekanak-kanakan yang masih belum bisa seutuhnya berpikir dewasa.
Menyangkut novel yang aku baca, aku ingin sedikit membahas mengenai CINTA. Sebenarnya malas benar membahas satu hal ini. Lagi-lagi ku jawab karena ku masih belum cukup umur menghadapinya.  Teringat jelas muka jelekku dan setengah menangis saat aku dijodoh-jodohkan oleh temanku. Namun, saat-saat aku mulai mengagumi seorang pria pun masih terbayang jelas kapan, dimana, saat apa. Lelaki pertama yang sekilas membawaku terbang meninggalkan dunia anak-anakku. Akan tetapi itu tak berlangsung lama karena aku belum mengerti benar apa yang ku rasakan. Perasaan sesaat, mungkin bisa dikatakan demikian.
Hingga aku memasuki dunia baruku di Sekolah Menengah Pertama. Aku menemukan teman-teman baru yang nyatanya lebih mengerti apa itu hubungan 2 insan berbeda. Kadang aku tersenyum geli melihat tingkah laku teman sekelasku waktu itu. Putus nyambung putus nyambung. Lucu juga saat ku dapati kakak kelasku tengah sebal di kamar mandi sekolah dengan sepucuk surat di tangannya. Apalagi kalau bukan surat cinta?  Lantas bagaimana dengan kisahku? Tak banyak cerita. Lagi-lagi hanya sebatas mengagumi. Itu pun hanya berlangsung singkat. Lagi-lagi perasaan sesaat. Satu dua mungkin tertarik padaku. Namun, melihat keanehanku dan mengerti aku yang belum begitu tertarik untuk urusan yang seperti itu, mereka menjadi malas untuk mendekatiku.
Hinggi kini aku duduk di bangku kuliah. Umurku hampir 20 tahun. aku masih malas saja untuk membicarakan hal ini. Entah lah, aku pun tak tahu mengapa aku bersikap demikian. Aku masih saja dingin pada lelaki yang mendekatiku. Aku masih merasa enggan saat temanku memperkenalkan lelaki yang dirasa cocok untukku. Apa jangan-jangan aku tidak normal? TIDAK. Aku hanya belum merasa ada yang sesuai dengan hatiku. Walaupun sebenarnya, aku tak tahu seperti apakah yang sesuai itu? Entahlah, ku ingin dapat yang terbaik tepat pada waktunya. J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS