RSS

Skin Baru

Jam kuliah berakhir jam 10.00. Jam pertama adalah UTS Pemrograman 4 yang kemarin sempat tertunda. Daripada tak ada kerjaan, bingung mau ngapain, mending melakukan hal yang sama dengan yang kemarin-kemarin. Tidur. Sudah pasti.
Selepas tidur yang tak panjang dan tak enak, aku melakukan keisengan yang sering ku lakukan. Mencari template yang tepat untuk blogku ini. Berulang-ulang kali aku melakukan, tak ada yang cocok. Tak ada yang sesuai hati. Giliran ada, eh, tak sesuai dengan blogku. Ya sudah. Ku lelah mencoba hingga hari ini. Ku temukan sebuah background template yang menarik hatiku. Dan ketika ku coba pasang....Tarrraaaaa....sedikit berantakan.... namun, dengan kesabaran memperbaikinya, akhirnya blog cantikku terlihat menawan.
:D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lagi-lagi GALAU

Aku sudah membaca artikel yang tertempel di mading itu beberapa hari yang lalu. Walau tak sepenuhnya ku mengerti, namun aku bisa menangkap maksud dari sang penulis. Kehidupan di dunia ini begitu singkat dan dari artikel itu ku dapati sejumlah data yang harusnya membuat kita sadar akan apa saja yang harusnya kita lakukan dalam waktu yang sesingkat ini.
Kehidupan di  dunia jika kita konversikan ke dalam waktu kehidupan di akhirat hanyalah 1 menit 52 detik.
Dari data tersebut kita dapat simpulkan bahwa kehidupan akhirat lah yang kekal. Kehidupan di dunia adalah saat dimana kita mencari tiket untuk posisi kita di kehidupan akhirat. Apakah kita memilih surga atau neraka. Semua pasti sudah tahu gambaran surga itu seperti apa, neraka seperti apa. Semua orang tak ingin masuk neraka. Namun, mereka tak memperlihatkan tindakan yang menunjukkan hal itu. Mereka takut akan siksa api neraka. Tapi mereka masih suka menggosip, ringan sekali mulut berbohong. Jangankan itu semua, sholat dan puasa yang notabene WAJIB bagi umat muslim pun dengan muka tanpa dosa mereka tinggalkan.
1 menit 52 detik. Apa saja sih yang bisa kita lakukan dalam waktu sesingkat itu. Ketika kita makan dan hanya diberikan waktu 4 menit saja kita protes meminta waktu lebih banyak lagi. Lantas dalam waktu 1 menit 52 detik kita bisa berbuat apa? Apakah waktu itu cukup untuk kita mendapatkan tiket menuju surga?
Beruntungnya kita karena 1 menit 52 detik itu sekitar 65 tahun kehidupan di dunia. Masih ada waktu jika kita memang benar-benar menginginkan surgaNya.
Namun, dunia ini terlihat begitu sempurna bagi mereka, para pemuja duLnia. Dunia melenakan mereka. Bayangkan dalam 24 jam kita, berapa jam kita bersamaNya? Sungguh miris ketika jawaban dari pertanyaan itu kurang dari 1 jam. Sholat butuh waktu 5 menit karena dalam sehari sholat 5 kali maka waktu untuk-Nya hanya 25 menit. Ku harap itu bukan jawabannya.
 Entah lah, aku tak tahu dengan apa yang ku tulis di atas. Hanya saja aku merasa miris dengan keadaan di sekelilingku. Tak ada yang menanggapi HANYA 1 jam dalam seminggu yang ku kirim tadi pagi ke sejumlah orang. Respon kalian membuatku sakit hati. Astaghfirullah. Semoga Alloh mengampuni dosa kita. Sadar kawan, hidup di dunia ini hanya singkat. Jangan sampai terlena pada kehidupan dunia.
Heh, hari ini benar-benar GALAU.
:X

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GALAU

Masih teringat jelas kemarin ketika aku dan salah satu warga 406 bertemu dengan dosen TekKom. Sore itu sang dosen memberitahukan kalau mata kuliah Teknik Komunikasi tidak ada UTS (Ujian Tengah Semester). Yey. Begitulah ekspresi yang tercipta saat itu. Hingga pagi ini . . .
Jam kuliah pertama. Statistik. Luar biasa . Kami, warga 406, membuat scatter diagram. Apa itu? Ya seperti itulah, diagram dengan titik-titik dan harus dibagi menjadi dua sama rata atas bawah. Misal titiknya ada 30, berarti kita harus membagi 15 atas, 15 bawah. Setelah itu bagi lagi menjadi 15 kanan, 15 kiri. Anda tidak mengerti? Hubungi dosen statistik saya karena saya juga tidak mengerti. Tapi, over all, Okelah. Karena yang tidak Oke adalah mata kuliah setelah Statistik.
TEKNIK KOMUNIKASI. Ya, sang dosen mendeklar bahwa tidak ada UTS Tekkom minggu depan. Kenapa? Karena hari ini kita UTS. Dengan sebuah gelas di tangan, sang dosen masuk kelas. Gelas itu tidak kosong namun tidak pula berisi air putih maupun air teh. Gelas itu diisi dengan beberapa lembar gulungan kertas. Hari ini benar-benar UTS. Masing-masing dari kami mengambil 1 gulungan kertas. Di dalam gulungan kertas itu terdapat sebuah kata dan kami harus mempresentasikan kata itu dalam waktu 5 menit.
"Ya, presentasi kali ini urut absen dari bawah" begitu kata sang dosen.
'Hwaaaaaaaaa........itu akuuuuuuuuuuuu' batinku.
Semua warga 406 teriak dan aku masih dalam keterkejutanku menghadapi kenyataan ini. Dan akhirnya, namaku dipanggil. Dengan langkah gontai, aku maju ke depan kelas menuju gelas itu. "God, help me!" Dengan sedikit gemetaran aku mengambil 1 gulungan kertas itu. Dan kau tahu apa yang terbaca olehku? GALAU. 


 "aaaaauuuuuu.......nak anak galau." itu kata kawan-kawanku.
406 seketika heboh mendengar kata-kata itu. Kenapa? karena sebagian warga 406 adalah para Galauers. Aku pun menjadi bingung, secara ngejelasin Galau ke Galauers. Well, just speak whatever what i want to speak. Hwaaaa.....gak jelas banget dah gue ngomong apa.... malah ketularan Galau nih....Toloooooonnnngggggggg....
5 menit pun berlalu. Huh. :) --> :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Whoooo......

whoooo...
hoooo...
wuouououoou...
baru beberapa menit aku menginjakkan kaki di ruang ini, kegaduhan sudah mulai terjadi. Diawali dari sebuah komputer menyala di samping meja tempatku menghabiskan waktu. Waktu yang menunjukkan jam sebelum angka 7:30 AM membuat kami, warga 406, bisa membuka situs apapun. Dan kebetulan komputer menyala itu tengah membuka situs jejaring sosial facebook dengan memajang profil salah satu dosenku yang seminggu ini absen, cuti menikah. Kehebohan terjadi saat foto-foto mesra sang dosen terupload dan tertempel di dindingnya. Sungguh...bukan iri melihatnya, tapi lucu menggodanya. Segudang ide pun terluncur untuk membuat sang dosen tersipu malu saat ia mengajar di kelas kami.Seperti saat itu, ketika salah dua atau tiga atau lebih memasang tampilan dekstop dengan sebuah tulisan yang terbaca "I LOVE JELEK". Tak ada yang salah dengan tulisan itu, namun tulisan itu lah yang terpasang sebagai photo profile sang dosen. Langsung sekelas tertawa. Dan sang dosen pun tak pernah marah.
Dan setelah kehobohan dari komputer menyala ini, kehebohan muncul dari seberang sana. Lagi-lagi dari komputer menyala. Namun, bukan komputer di sampingku lagi, tapi sebuah komputer menyala dari seorang kawan yang kataku dia mirip dengan owl, burung hantu, yang pernah dia presentasikan waktu mata kuliah Bahasa Inggris. Dan kali ini lagi-lagi sebuah foto di facebook. Ternyata kawanku yang satu ini tengah membuka foto salah satu adik kelas prodi lain. Sebagai seorang cowok mungkin bukan hal yang aneh ketika ia membuka sebuah foto cewek. Namun, yang menjadikannya heboh adalah karena kawanku ini sudah punya pacar.
"Cowok itu brengsek. Makanya gue nggak suka sama cowok." Begitulah salah satu komentar yang terlontar dari kawanku yang lain. Tentu saja ia seorang cowok juga.
Dan di tengah kegaduhan itu, si omoh tiba-tiba nyeletuk dengan suaranya yang nyaring. "aD1n1n994r cintanya Amir....!!!" Kontan sekelas langsung teriak dan perhatian tertuju pada aD1n1n994r dan Amir. Kalian tahu siapa aD1n1n994r dan Amir? Nantikan kisahnya 2 tahun mendatang. :D

Kehebohan dan kegaduhan pun harus terhenti setelah dosen Javaku masuk ke kelas dengan segenggam fotocopyan yang siap dibagikan ke seluruh warga 406.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TIDAK

Tak seharusnya aku menulis ini di saat waktu belajarku yang tak teratur ini. Entah apa yang ku rasakan, yang jelas jika aku mengingat wajah kedua orang tuaku, menangislah aku. Basahlah mata dan pipi ini. Tak peduli betapa kerasnya bit lagu yang dibawakan Katy Perry dalam lagu-lagunya yang kini ku dengarkan lewat headset ini.
Aku memang tak sedang patah hati. Namun, keadaan membuatku jenuh. Aku bosan dari dunia Polman. Ku rasa aku cukup memaklumi mereka yang resign dari Polman dan lebih memilih pindah ke universtas lain.
Apakah aku akan resign dari Polman? Dengan tegas dan mantap aku menjawan TIDAK. Aku hanya butuh seminggu liburan untukku pulang ke rumah. Melupakan sejenak apa yang ada di Polman. Tugas-tugas kuliah, deadline pengumpulan nilai, Pak Raden, dan satu hal yang paling membuatku jenuh, organisasi. Mungkin ini salahku karena dari awal bergabung ke organisasi-organisasi yang hanya ku jadikan ajang latihan untuk berorganisasi. Padahal seharusnya ikut UKM atau organisasi kemahasiswaan apapun adalah untuk mengembangkan bakat dan minat, bukan sekedar latihan berorganisasi atau hanya memperbanyak teman.
Dan kini, ketika semua organisasi meminta perhatian yang lebih di waktu yang bersamaan , maka kau harus mempertanggungjawabkannya. Dan demikianlah, bukan bermaksud melarikan diri dari semua ini, aku hanya ingin sejenak melupakan semua yang ada. Mengistirahatkan otak ini, menyegarkannya dan siap menyelesaikan semuanya.
Hari ini. Aku tak tahu apakah keputusanku ini benar atau salah. Yang jelas hari ini aku telah berkata TIDAK untuk sebuah pekerjaan mulia, memonitoring tingkat 1. Sebenarnya aku malu telah berkata TIDAK, apalagi jika kesembilan orang yang lain berkata YA. Pekerjaan mulia ini ditujukan pada kami, 10 orang pendamping saat outbond 2011. Aku yakin kesembilan orang itu akan berkata YA dan hanya aku yang berkata TIDAK. Aku malu aku tak bisa menjaga komitmen saat outbond kemarin untuk mem-follow up tingkat 1. Akan tetapi, tugas mulia ini adalah sebuah pilihan, bukan paksaan. Dan karena sebuah pilihan, maka aku memilih tidak. Bukan karena aku tak peduli pada tingkat 1 atau aku bersikap masa bodoh pada anak-anak PMDK angkatan ketiga ini, tapi daripada aku keteteran menjalankan komitmen ini, atau aku tak bisa focus pada tugas mulia ini, maka aku mundur saja.

Kalau boleh jujur, aku malu sejak awal. Dimana saat inaugurasi, 9 dari 10 orang disebut namanya sebagai 3 besar peringkat terbaik tiap prodi dan berhak menerima beasiswa . Hanya namaku yang tak disebut. Aku tak tahu harus malu, sedih, atau senang. Malu karena hanya aku, pendamping outbond yang tidak masuk 3 besar. Walau secara nilai, IPKku sama dengan IPK peringkat 3 prodiku, kenyataannya aku tak dianggap oleh institusi. Dan itulah yang membuatku sedih. Aku membayangkan jika aku bukan anak PMDK yang kuliahku dibiayai oleh institusi, mungkin aku akan sakit hati berkepanjangan. Beruntungnya aku PMDK dan ketiga besar prodiku juga PMDK, jadi aku bisa berbesar hati. Dan mengapa aku harus senang? Ya, karena ternyata aku tak sendiri. Ada teman dari prodi lain yang mengalami nasib yang sama denganku, peringkat 3.2. Dan aku harus senang karena walau secara institusi aku peringkat 4, aku masih bisa ikut outbond sebagai pendamping. Sebenarnya aku tak suka membahas ini karena semuanya adalah kawanku. Dan tak pantas bagiku bangga akan peringkat 3.2ku karena pada kenyataannya memang mereka lah yang pantas. Bukan aku. Namun, aku ingin membuktikan bahwa aku memang bisa. Aku bisa dapatkan posisi yang ku inginkan. Ini semua demi orang tuaku.
Semoga keputusanku untuk berkata TIDAK adalah keputusan yang tepat. Terlepas apa omongan orang di belakang, aku pasti bisa bersikap innocent terhadap itu. Aku berharap tak ada yang dirugikan akan keputusan itu. Dan semoga keputusan ini pun memberikan dampak yang baik untukku. Setidaknya pikiran ku tak terbebani oleh tanggung jawab itu. Namun, jika aku diminta bantuan, maka aku akan membantu sebisa mungkin. Namun, untuk keterikatan komitmen, maaf saya tidak sanggup.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS