jam segini harusnya aku tidur nyenyak, bukan malah senam jantung kayak gini...
bener2 gila punya teman seorang hacker, dan lebih gila lagi klo aku mencoba belajar dari dirinya..
dan beginilah hasilnya...parah...
buka Notepad, ketik seperti ini
Set wshShell =wscript.CreateObject("WScript.Shell")
do
wscript.sleep 100
wshshell.sendkeys "{BACKSPACE}"
wshshell.sendkeys "{CAPSLOCK}"
wshshell.sendkeys "{NUMLOCK}"
wshshell.sendkeys "{SCROLLLOCK}"
wshshell.sendkeys "{DELETE}"
wshshell.sendkeys "{F5}"
wshshell.sendkeys "{ENTER}"
loop
kewsellll.....
Read User's Comments(0)
aku????
Berbicara mengenai kelemahan dan kelebihan seseorang, pastilah kita tak dapat menilai diri kita sendiri. Tentu butuh orang lain untuk menilai seperti apakah kita?
Akan tetapi, jikalau kau menyuruhku untuk menceritakan aku ini seperti apa, maka aku akan menjawab aku adalah seorang yang pendiam. Mungkin orang yang mengenalku akan menyetujui jawabanku itu.
Pendiam. Diamku bukan diam seperti orang yang gagal ujian. Bukan diam seperti orang putus cinta. Bukan pula diam seperti orang yang gagal dalam pemilu. Dalam diam ku berpikir. Dalam diam ku menganalisis. Mungkin kalian, orang-orang yang sekedar mengenalku, yang hanya berstatus “oh, dia temanku” tak akan mengerti bagaimana aku yang sesungguhnya. Mungkin mereka akan menganggap aku culun, aneh, dan bahkan akan menyebutku gila karena setiap bertemu orang aku hanya melempar senyum, tanpa ada kata yang terucap dari mulut ini.
Aku tak peduli apa yang kalian pikirkan tentang aku. Karena beginilah aku. Kalau saja aku bisa bernegoisasi dengan Tuhan sebelum aku dilahirkan, aku pun meminta kesempurnaan dari setiap bulir-bulir kehidupanku. Kesempurnaan fisik, kesempurnaan batin. Namun, itu hanya sekedar khayalan yang tak berguna karena pada kenyataannya, Tuhan telah menciptakan aku seperti ini. Kalau saja negoisasi itu bisa terlaksana dan setiap orang berhak akan hal itu, pasti tidak ada orang ‘tuna’ di dunia yang sebenarnya begitu kecil di hadapanNya ini. Tak ada orang yang sakit hati karena dihina sesamanya, dan tentu tak kan ada air mata yang tertetes sia-sia.
Kembali ke diriku.
Aku yakin kalian, orang yang benar-benar dekat denganku, orang-orang yang sudah menganggap aku saudara, dan orang yang belum mengenalku lama namun tlah mencurahkan segala tentangnya kepada, kalian akan mengerti bagaimana aku sebenarnya. Mungkin kalian terganggu dengan sikap pendiamku serta sifat ketertutupanku ini. TERIMA KASIH sangat kalian selalu di sampingku dengan segala keterbatasanku ini. Ku berharap kalian adalah orang-orang yang selalu memberiku motivasi untuk berubah menjadi yang lebih baik.
Tak ingin aku mengumbar apa yang menurutku baik yang ada pada diriku ini, karena memang tak sepantasnya. Aku hanya makhluk-Nya dengan segala keterbasannya. Tapi akhir-akhir ini, bukan, sudah sejak lama, aku mengamati diriku sendiri. Entah mengapa ketika berjalan dengan teman-teman, aku selalu berjalan di barisan paling akhir. Semisal bertiga, di gang yang tak terlalu lebar, aku selalu menempatkan diri berjalan di belakang dan dua orang sahabatku di depan. Ketika bergerombol banyak pun aku lebih suka berjalan di belakang. Aku tak tahu ini berhubungan dengan sifatku aku tidak. Tapi yang jelas, “Aku lebih suka kau sakiti daripada ku harus menyakitimu. Kau boleh sakiti aku, asalkan kau tak merasa terganggu akan kehadiranku. Yang perlu kau tahu, aku punya hati, aku punya rasa. Sekejam-kejamnya kau sakiti aku, kau pasti tahu batasannya.”
Lagi-lagi aku tak tahu. Mengapa ku tulis ini. Tulisan yang sebenarnya tak perlu kau tulis ketika kau menginginkan seorang sahabat sejati. Tak perlu kau ceritakan siapa sebenarnya dirimu karena sahabat sejati akan jauh lebih mengertimu dari sekedar yang kau tulis. Ia akan terimamu tak peduli kau di mata orang seperti apa. Yang jelas tulisan ini hanya sekedar penjelas bahwa ini lah aku di mataku. Semoga kalian yang hanya sekedar siapa aku secara fisik akan tahu sebenarnya siapa aku. Dan kalian yang sudah ku anggap saudara bisa semakin mencintai aku seperti aku mencintai kalian.
maaf
Pada waktu itu aku sempat menulis “Inilah Budayaku”. Aku tak sadar jikalau aku tlah salah menulis itu. Dan kini aku pun menyadarinya. “Inilah Budayaku.” Tak ada yang salah, tapi rasanya ada yang kuran dari 2 kalimat itu. Dimana kelanjutan “dan begitulah Budayamu”.
Tulisan kemarin benar-benar menunjukkan keegoisanku. Harusnya aku juga harus tahu bagaimana budaya orang disana. Dan malam ini aku pun tahu akan hal itu, dimana engkau begitu menghormati orang yang lebih tua darimu. Bahkan kau selalu sungkan padaku. Sungguh bagus sekali. Namun, agaknya berbeda dengan kepriadianku. Inginku bisa lebih akrab denganmu, karena jika kamu merasa sungkan padaku, aku pun juga akan sungkan padamu...
Ues Males...
sakjane au es males nulis ng blog iki. alasane simpel, perkara diwaca wong sing ra takkarepke maca. jengkel banget. nyebahi. tapi piye neh??? apa iya blog iki kosong padahal uneg-uneg terus teka.
hah. ra urus lah, dekne berpikiran kepiye? terserah, sak karepmu.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaAAAAAArghhghghh............
haa,,,,
pengen baliiiiiiiiiiiiii....!!!!!!
au mulai eneg ro sekabehane............
ihhh.....
(astaghfirullah hal 'adzim)
kakak??? ish...
*Kudu mangkel aku...
Haduh, ada apalagi ini??
Kenapa dia tiba-tiba manggil aku “kakak”??
Hey, aku ini orang jawa, kamu panggil aku ‘mbak’ aja, udah berapi-api hati ini... dan kenapa sekarang jadi ‘kakak’? Jadi berasal dari Indonesia bag. Timur nih...
Jujur, aku tak suka sekali. Oke deh, aku sudah mulai terima kamu panggil ‘mbak’, tapi ati iki mangkel pol nek kowe nyeluk aku ‘kakak’.
Bagiku, sebutan kakak berasa dalam suasana pramuka yang penuh kesenioritasan. Dan aku pun amat canggung ketika aku memasuki kota ini dengan memanggil para kakak kelas atau lebih tepatnya senior dengan panggilan “kak”.
Betapa sangat tidak nyamannya aku memanggil ‘kak’. Apalagi ada senior aku yang sejak awal kenalan nggak mau dipanggil ‘mbak’ dan meminta dipanggil ‘kak’.
Ok. Aku mulai terbiasa memanggil para seniorku dengan sebutan ‘kak’. Bahkan kakak kelasku waktu SMA, yang biasa ku panggil ‘mas’ kini harus ku panggil ‘kak’, dengan nada yang aneh tentunya.
Well, yang jadi permasalahan saat ini, kenapa dia manggil aku kak sih??? Kita ini satu angkatan, umur kita beda cuma berapa bulan. Tapi kenapa?
“Mungkin lo nggak ngerasa. Dan mungkin itu udah jadi kebiasaan lo. Itu hasil pengamatan gue, karena gue sering dengerin sedikit pembicaraan lo ama nyokap lo dengan panggilan yang tidak konsisten. Kadang manggil ‘ibuk’ kadang ‘mama’.”
Ini hal sepele. Tapi hati, telinga, rasa ga bisa dibohongin. Telingaku panas kalau kau panggil aku ‘kak’, bahkan kalau perlu adik kelas tingkat 1 besok manggil aku ‘mbak’ aja, karena berasa lebih akrab, kekeluargaan, dan tidak berasa kesenioritasan.
Dan bagi kalian yang seumuran denganku , tak perlu lah memanggilku ‘mbak’ apalagi ‘KAK’. TERIMA KASIH. Telinga ini cukup panas untuk mendengarnya.
(*semua berawal dari hal2 yang sepele. Kalau kalian menganggap tulisan ini sesuatu yang sepele, tak masalah bagiku. Tapi inilah aku. Ini budayaku. )
*Kudu mangkel aku...
Haduh, ada apalagi ini??
Kenapa dia tiba-tiba manggil aku “kakak”??
Hey, aku ini orang jawa, kamu panggil aku ‘mbak’ aja, udah
berapi-api hati ini... dan kenapa sekarang jadi ‘kakak’? Jadi berasal dari
Indonesia bag. Timur nih...
Jujur, aku tak suka sekali. Oke deh, aku sudah mulai terima
kamu panggil ‘mbak’, tapi ati iki mangkel pol nek kowe nyeluk aku ‘kakak’.
Bagiku, sebutan kakak berasa dalam suasana pramuka yang
penuh kesenioritasan. Dan aku pun amat canggung ketika aku memasuki kota ini
dengan memanggil para kakak kelas atau lebih tepatnya senior dengan panggilan
“kak”.
Betapa sangat tidak nyamannya aku memanggil ‘kak’. Apalagi ada senior aku yang sejak awal kenalan
nggak mau dipanggil ‘mbak’ dan meminta dipanggil ‘kak’.
Ok. Aku mulai terbiasa memanggil para seniorku dengan
sebutan ‘kak’. Bahkan kakak kelasku waktu SMA, yang biasa ku panggil ‘mas’ kini
harus ku panggil ‘kak’, dengan nada yang aneh tentunya.
Well, yang jadi permasalahan saat ini, kenapa dia manggil
aku kak sih??? Kita ini satu angkatan, umur kita beda cuma berapa bulan. Tapi kenapa?
“Mungkin lo nggak
ngerasa. Dan mungkin itu udah jadi kebiasaan lo. Itu hasil pengamatan gue,
karena gue sering dengerin sedikit pembicaraan lo ama nyokap lo dengan
panggilan yang tidak konsisten. Kadang manggil ‘ibuk’ kadang ‘mama’.”
Ini hal sepele. Tapi hati, telinga, rasa ga bisa dibohongin.
Telingaku panas kalau kau panggil aku ‘kak’, bahkan kalau perlu adik kelas
tingkat 1 besok manggil aku ‘mbak’ aja, karena berasa lebih akrab,
kekeluargaan, dan tidak berasa kesenioritasan.
Dan bagi kalian yang seumuran denganku , tak perlu lah
memanggilku ‘mbak’ apalagi ‘KAK’. TERIMA KASIH. Telinga ini cukup panas untuk
mendengarnya.
(*semua berawal dari hal2 yang sepele. Kalau kalian
menganggap tulisan ini sesuatu yang sepele, tak masalah bagiku. Tapi inilah
aku. Ini budayaku. )
Langganan:
Postingan (Atom)







